Peradaban Gontor

PERADABAN GONTOR

Oleh : Jarman Arroisi

15 Oktober 2010

Sebagai salah satu lembaga pendidikan pesantren terbesar di Indonesia, Pondok Modern Darussalam Gontor telah memberikan kontribusi berarti dalam pembangunan peradaban ummat. Sejak awal didirikannya tahun 1926, hingga sekarang  Gontor telah dan akan terus memproduksi alumni yang terjun diberbagai aspek kehidupan masyarakat.  Para alumni itu, telah merasakan gemblengan suasana kehidupan pesantern dengan disiplin tinggi, tegas, dibarengi tradisi saling menghargai sesama santri dalam semangat persamaan yang tulus. Setelah digembleng dalam kawah condrodimuko dengan penuh komitmen mereka berangkat menyebarkan kultur Gontor ke berbagai: kelompok, lembaga, organisasi, partai dan stratifikasi masyarakat. Namun disayangkan, derasnya hembusan arus budaya global terus membayangi dan bahkan menjadi tantangan tersendiri bagi transformasi budaya Gontor, sehingga budaya yang sarat nilai itu, belum menembus kalangan luas.

  1. Pendidikan dan Peradaban

Dari segi definisi, peradaban berbeda dengan kebudayaan, kedua kata ini telah banyak didefinisakan oleh para antropolog. Namun demikian, definisi-definisi itu masih mengacu pada beberapa komponen seperti nilai-nilai, kebiasaan yang dianut oleh masyarakat, misalnya bahasa dan teknologi. Melville J. Herskovits  mengatakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Sementara Selo Soemardjan, berpendapat bahwa kebudayaan adalah hasil karsa, rasa dan cipta masyarakat.

Sama halnya dengan kebudayaan. Peradaban juga memiliki berbagai pengertian yang ada kaitanya dengan masyarakat. Peradaban umumnya memiliki makna: tinggi rendahnya budaya masyarakat tertentu. Masyarakat dikatakan beradab manakala memiliki kebudayaan yang tinggi. Yang dinilai dari peradaban adalah pemikiran-pemikiran atau gagasan-gagasan yang  hidup pada masyarakat tersebut, juga prilaku dan hasil-hasil budaya yang berwujud artefak atau fisik misalnya: perangkat dapur, bangunan, kedaraan dan lain sebagainya. Dalam kaitan ini, antara kebudayaan dan peradaban memiliki keterkaitan yang sangat erat, karena yang menjadi parameter sebuah peradaban tersebut adalah hasil-hasil dari kebudayaan yang wujudnya: pemikiran / ide, prilaku hasil budaya yang berwujud fisik. Pimpinan Pondok Modern Gontor, Dr. KH. Abdullah Syukri Zarkasysi, MA, juga menyampaikan pendapat senada, bahwa peradaban adalah integrasi antara tsaqofah dan madaniyah. Tsaqofah ataupun hadloroh merupakan sekumpulan nilai, ide, ilmu, jiwa prilaku manusia yang bersifat  abstrak. Sedangkan Madaniyah merupakan bentuk-bentuk fisik dari benda-benda yang terindera yang digunakan dalam berbagai aspek kehidupan. Tsaqofah/hadloroh bersifat khas, sesuai dengan pandangan hidup. Sementara madaniyah bisa bersifat khas, dan boleh bersifat umum. Bentuk madaniyah yang bersifat khas bisa berbentuk patung, mobil dll. Sedangkan madaniyah yang bersifat umum bisa seperti kemajuan sain dan teknologi yang menjadi milik seluruh umat manusia. Kolaborasi antara keduanya merupakan manefestasi peradaban. Dan masih banyak lagi definisi-definisi tentang peradaban, ada yang menyamakan dengan kebudayaan dan ada juga yang membedakannya. Dalam bahasan ini tidak akan dibahas mengenai perbedaanya, namun justru persamaan antara keduanya yang akan disandingkan dengan pendidikan.

Pendidikan sebagaimana disampaikan oleh para ahli merupakan sebuah proses pembentukan karakter anak yang sengaja diciptakan untuk membantu meningkatkan jasmani, rohani dan akhlaq. Prof. Dr. Tilaar mamaknai hakekat pendidikan sebagai suatu proses menumbuhkembangkan eksistensi peserta didik yang memasyarakat, membudaya dalam tata kehidupan yang berdimensi lokal, nasional dan internasional. Dalam membicarakan proses pendidikan dalam konteks ini dapat dirumuskan bahwa pendidikan merupakan suatu proses pembudayaan dan peradaban. Tidak mungkin membangun sebuah peradaban tanpa adanya budaya. Namun bisa dan sah-sah saja mengembangkan  budaya tanpa menuju kemajuan.

Di dalam dunia yang semakin global dewasa ini proses pendidikan haruslah menggabungkan antara kedua konsep tersebut, yaitu membangun manusia yang  berbudaya dan beradab. Pendidikan haruslah mengandung proses menanamkan  benih-benih budaya dan peradaban menusia yang hidup dan dihidupi oleh nilai-nilai atau visi yang berkembang dan dikembangkan di dalam suatu masyarakat. Inilah sesungguhnya  yang disebut pendidikan sebagai sebuah proses peradaban.

  1. Membangun Peradaban

Jika memperhatikan realitas pendidikan sebagai suatu proses peradaban, maka sebagai salah satu lembaga pendidikan pesantren, Gontor tentu telah lebih dari cukup untuk memenuhi syarat dikatagorikan sebagai suatu institusi yang memberikan kontribusi berharga bagi pembangunan peradaban ummat. Sejarah proses peradaban Gontor dapat dibagi menjadi dua periode yaitu dari tahun 1926 s.d 1985 (masa pendiri Gontor Baru) dan dari tahun 1985 s.d sekarang (generasi kedua).

Titik awal peradaban Gontor dimulai ketika K.H. Ahmad Sahal salah satu dari TRIMURTI sebutan pendiri Gontor (K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainuddin Fananie dan K.H. Imam Zarkasyi) diundang mengikuti kongres ummat Islam di Surabaya mewakili karesidenan Madiun, dalam kongres tersebut disepakati untuk mengirim satu utuasan mengikuti Konfrensi Internasional Ummat Islam. Namun sangat disayangkan dari peserta yang hadir, tidak ada satupun peserta yang dipandang mampu menguasai dua bahasa sekaligus. Peristiwa minimnya ummat Islam yang memiliki kemampuan bahasa tersebut, telah mengilhami K.H. Ahmad Sahal sebagai salah satu peserta pertemuan untuk mengagas sebuah lembaga pendidikan yang mampu mengahsilkan alumni yang menguasai dua bahasa. Maka sekembalinya dari pertemuan tersebut K.H. Ahmad Sahal merealisasikan ide dan gagasanya dengan merintis lembaga pendidikan yang di beri nama Tarbiyatul Atfal (TA).

Proses belajar mengajar di TA diawali dengan media  sangat sederhana tetapi  sekalipun demikian telah dilaksanakan dengan penuh kesungguhan. Sambutan masyarakat terhadap kehadiran TA sangat positif sehingga karenanya bisa berkembang dengan pesat. Sepuluh tahun kemudian tepatnya pada tahun 1936 program pedidikan di Gontor ditingkatkan lagi menjadi Kuliyatul Muallimin Al-Islamiyah (KMI). Yaitu program pendidikan yang dirancang untuk persemaian guru-guru Islam. Sejak awal hingga memasuki tahun kesepuluh, introdoksi-introdoksi kemodernan di Gontor telah  diberlakukan, dengan bermacam-macam kegiatan: kepanduan, organisasi, aneka seni musik, kaligrafi, beladiri, olahraga, pidato dalam tiga bahasa dengan mengunakan kostum yang necis beradasi dll. Gontor terus melangkah dan mengadakan  modernisasi kegiatan. Pada tahun 1958, pendiri Pondok Modern Gontor menorehkan babak baru dalam sejarah pesantren, yaitu dengan mewakafkan pesantren Gontor kepada ummat Islam. Dengan diwakafkanya Pondok Gontor kepada ummat Islam, berarti kelangsungan hidup Pondok Gontor, bukan saja tergantung pada keluaraga pendiri tetapi sudah menjadi tanggungjawab ummat Islam bersama, utamaya para alumni dan lebih khusus para kader Gontor, yang memahami dan menghayati visi, misi, sunah, disiplin dan mau berjuang untuk Gontor. Setelah diwakafkan, Pondok Gontor terus berkembang dari segala seginya: perguruan tinggi IPD sekarang ISID telah berdiri,  Chizanatulalh terus bertambah dll. Namun Allah telah menentukan taqdir lain. Para pendiri Gontor itu belum bisa sepenuhnya melihat langsung kemajuan Gontor separti yang ada sekarang. Satu persatu TRIMURTI Gontor telah tiada hingga yang terakhir dari tiga bersaudara K.H. Imam Zarkasyi menghembuskan nafas terakhinya pada tahun 1985. TRIMURTI  telah tiada namun keharuman ide dan gagasanya selalu menjadi spirit bagi yang mengenalnya. Pendiri Gontor itu tidak sekedar memiliki ide sangat berlian, tetapi beliau-beliau itu telah mampu meramu sistem pendidkan pesantern  modern. Dan lebih dari segalanya, ide dan gagasan itu sangat jauh mendahului zamannya,  bahkan lembaga pendidikan yang dirintis dan dikelolanya merupakan tindakan sangat revolosioner.

Saat ini, gagasan dan ide itu telah menjadi pedoman bagi generasi kedua dan seterusnya termasuk pondok alumni dan anak cabangnya yang tersebar di dalam dan luar negeri. TRIMURTI telah berhasil meletakan dan membangun dasar-dasar pendidikan dan peradaban Gontor, yang dapat diklasifikasikan menjadi Nilai dan Sistem Pondok,  yang bisa dijelaskan sebagai berikut : Nilai-nilai Pondok terdiri dari  Panca Jiwa, Motto, Orientasi, Sintesa dan Falsafah. Sedangkan Sistem Pondok mencakup:  Kepemimpinan, Kepengasuhan, Pengajaran, Kaderisasi dan Pendanaan.

  1. Panca Jiwa Pondok Gontor
  2. Jiwa Keihlasan. Ikhlas berarti sepi ing pamrih, yakni berbuat sesuatu itu bukan karena didorong oleh keinginan memperoleh keuntungan tertenu. Segala pekerjaan dilakukan dengan niat semata-mata ibadah, lillah. Kyai ihlas dalam mendidik, santri ihlas dididik dan mendidik sendiri, dan para pembantu kyai ihlas dalam membantu menjalankan proses pendidikan.
  3. Jiwa Kesederhanaan. Kehidupan di dalam pondok diliputi oleh suasana kesederhanaan. Sederhana tidak berarti pasif atau nerimo, tidak juga miskin. Justru dalam kesederhanaan itu terdapat nilai-nilai kekuatan, kesanggupan, ketabahan dan penguasaan diri dalam menghadapi perjuangan hidup. Di balik kesederhanaan ini terpancar jiwa besar, berani maju, dan pantang mundur dalam segala keadaan. Bahkan di sinilah hidup dan tumbuhnya mental dan karakter yang kuat, yang menjadi syarat bagi suksesnya perjuangan dalam segala segi kehidupan.
  4. Jiwa Berdikari. Kesanggupan menolong diri sendiri merupakan senjata ampuh yang dibekalkan pesantren kepada para santrinya. Berdikari tidak saja dalam arti bahwa santri sanggup belajar dan berlatih mengurus segala kepentingan sendiri, tetapi pondok pensatren itu sendiri – sebagai lembaga pendidikan – juga harus sanggup berdikari sehingga tidak pernah menyandarkan kehidupannya kepada bantuan atau belas kasihan pihak lain.
  5. Jiwa Ukhuwah Islamiyah. Di pesantren, kehidpan diliputi suasana persaudaraan yang akrab, sehingga segala suka dan duka dirasakan bersama dalam jalinan persaudaraan seagama. Tidak ada lagi dinding yang dapat memisahkan antara mereka, meskipun berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda. Ukhuwah ini bukan saja selama di dalam  Pondok, tetapi juga mempengaruhi ke arah persatuan ummat dalam masyarakat sepulang para santri itu dari pondok.
  6. Jiwa Bebas. Bebas dalam berpikir dan berbuat, bebas dalam menentukan masa depan, bebas dalam memilih jalan hidup, dan bahkan bebas dari berbagai pengaruh negatif dari luar masyarakat (bukan bebas tanpa batas). Jiwa bebas ini akan menjadikan santri berjiwa besar dan optimis dalam mengahadapi segala kesulitan sesuai dengan nilai-nilai yang telah diajarkan kepada meraka di Pondok.

 

  1. Motto Pondok Gontor
  2. Berbudi Tinggi. Di manapun dan kapanpun santri harus tetap memiliki akhlaq karimah. Akhlaq karimah saja belum cukup, tetapi harus memiliki kesehatan yang prima.
  3. Berbadan Sehat. Kesahatan jasmani menjadi faktor penting dalam malakukan segala hal, maka santri harus selalu sehat jasmaniahnya. Berbudi tinggi dan berbada sehat tentu juga belum cukup, tetapi harus dilengkapi dengan  pengetahuan yang memadai.
  4. Berpengetahuan Luas. Dalam melaksanakan suatu pekerjaan tidak cukup dengan ilmu yang pas-pasan, tetapi diperlukan pengetahuan yang luas. Setelah memiliki ahklaq karimah, badan sehat dan pengetahuan luas, pada tahap lebih lanjut boleh berpikir bebas.
  5. Berpikiran Bebas. Keempat motto tersebut harus diletakkan secara berurutan dan tidak bisa dibalik.

 

  1. Orientasi Pondok Gontor
  2. Kemasyarakatan, b. Kesederhanaan, c. Tidak Berpartai dan d. Ibadah Thalabul ‘Ilmi.

 

  1. Sintesa Pondok Gontor
  2. Al-Azhar (diwakafkan, keabadiannya, tidak berpolitik praktis, kekayaannya dan pendidikannya), b. Aligarh (kemodernan), c. Syanggit (kedermawanan para pengasuhnya) dan d. Santiniketan (suasana kedamaiannya).

 

  1. Falsafah Pondok Gontor
    1. a.       Falsafah Kelembagaan.

1)      Apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan dialami oleh santri sehari-hari harus mengandung unsur pendidikan. 2). Hidup sekali, hiduplah yang berarti, 3). Berani hidup tak takut mati, takut mati jangan hidup, takut hidup mati saja, 4). Berjasalah, tetapi jangan minta jasa, 5). Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya, 6). Hanya orang penting yang tahu kepentingan, dan hanya pejuang  yang tahu arti perjuangan

  1. b.       Falsafah Kependidikan.

1)      Apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan dialami oleh santri sehari-hari   harus mengandung pendidikan, 2). Hidup sekali, hiduplah yang berarti, 3). Berani hidup tak takut mati, takut mati jangan hidup, takut hidup mati saja, 4). Berjasalah, tetapi jangan minta jasa, 5). Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya, 6). Hanya orang penting yang tahu kepentingan, dan hanya pejuang yang tahu arti perjuangan.

  1. c.        Falsafah Pembelajaran.

1)      Metode lebih penting daripada materi, guru lebih penting daripada metode,   jiwa guru lebih penting daripada guru itu sendiri, 2). Pondok memberikan kail, tidak memberi ikan, 3). Ujian untuk belajar, bukan belajar untuk ujian, 4). Ilmu bukan untuk ilmu, tetapi ilmu untuk amal dan ibadah.

Nilai-nilai yang bernafaskan Islam, bersumberkan Al-Qur’an dan Al-Hadist sebagaimana dijelaskan diatas memberikan spirit TRIMURTI dalam merumuskan haluan perjuangannya di masyarakat. Haluan tersebut yang kemudian ditetapkan dalam visi misi Pondok Modern Darussalam Gontor.

Visi misi PMDG yang dimaksud adalah: Visi, sebagai  lembaga pendidikan Islam yang mencetak kader-kader pemimpin ummat, menjadi tempat ibadah dan sumber ilmu pengetahuan agama dan umum dengan tetap berjiwa pesantren. Visi tersebut yang kemudian dituangkan kedalam  misi PMDG, yaitu:  Mempersiapkan generasi yang unggul dan berkualitas menuju terbentuknya khairu ummah. 2. Mendidik dan mengembangkan generasi mukmin muslim yang berbudi tinggi, berbadan  sehat, berpengetahuan luas, dan berpikiran bebas, serta berkhidmat kepada masyarakat. 3. Mengajarkan ilmu pengetahuan agama dan umum secara seimbang menuju terbentuknya ulama yang intelek bukan intelek yang tahu agama dan 4. Mempersiapkan warga negara yang beriman dan bertakwa kepada Allah swt.

Untuk merealisasikan suksesnya visi misi pondok, diperlukan sistem  kehidupan. Sistem kegiatan PMDG bukanlah sekedar teori semata. Tetapi merupakan pengalaman panjang yang  telah dilaksanakan selama kurang lebih 83 tahun. Sistem kegiatan itu dapat diklasifikasikan menjadi :

  1. 1.      Sistem Kepemimpinan. Mau dipimpin dan siap memimpin adalah salah satu siar Pondok Modern Gontor. Siar itu bukan hanya ditempel dalam bentuk tulisan, tetapi telah menjadi komitmen seluruh santri. Untuk menanamkan jiwa kepemimpinan, yang siap dipimpin dan mau memimpin, maka sejak awal mereka masuk di Pondok Modern Gontor, santri langsung diajarkan beberapa kegiatan yang mengandung unsur-unsur kepemimpinan. Mulai dari mengatur diri sendiri sampai mengatur orang lain, mulai dari memimpin diri sendiri sampai memipin orang lain. Seluruh santri, guru dan kyai yang tinggal di dalam Pondok harus siap dipimpin dan siap memimpin dengan segala resikonya. Agar seluruh proses pimpin-memimpin di Gontor berjalan dengan baik, maka nilai-nilai kepondokmodernan harus menjiwainya.

Dengan berbagai kegiatan yang ada, santri yang telah menyelesaikan studinya diharapkan telah  memiliki modal kepemimpinan yang bisa dikembangkan sesuai dengan kapasitas masing-masing. Sehigga nantinya mereka bisa memiliki kualifikasi pemimpin yang : Ihlas, dapat dipercaya, jujur dan terbuka, tegas, mau berkorban, bekerja keras dan sungguh-sungguh, mempunyai kemampuan berkomunikasi, menguasai masalah dan dapat menyelesaikannya, bisa membuat networking dan memanfaatkanya, berfikir inovatif, bernyali besar dan berani mengambil resiko, baik dalam bermu’amalah maanas dan maaALLAH, dapat diteladani dari segala seginya, ceras dalam membaca keadaan dan memberikan kebijaksanaan.

  1. 2.      Sistem Pengasuhan.

Pengasuhan santri adalah salah lembaga yang ada di Pondok Modern Gontor. Lembaga ini adalah lembaga yang mendidik dan membina kegiatan ekstrakurikuler santri di luar jam belajar santri di KMI mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali. Aktivitas tersebut mencakup kegiatan harian, mingguan, bulanan dan tahunan. Kegiatan ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu kegiatan santri tingkat menengah dan kegiatan santri tingkat tinggi. Aktivitas santri tingkat menengah di atur oleh sebuah organisasi yang disebut Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM) dan Organisasi Kepramukaan. Sedangkan kegiatan santri tingkat tinggi di atur oleh Dewan Mahasiswa (DEMA). Secara struktural lembaga ini ditangani langsung oleh Pengasuh santri yang juga Pimpinan Pondok. Seluruh aktivitas santri selama 24 jam tidak lepas dari muatan nilai, disiplin dan ajaran kemodernan. Untuk melaksanakan kegiatan kependidikan ini diperlukan sistem dan strategi sebagai berikut ; a.Keteladanan.  Sistem ini dilakukan dengan adanya figur dari kyai, pengasuh, guru dan santri sendiri. b. Penciptaan milliu. Sistem ini sengaja dirancang untuk proses pendidikan, sehingga apa yang dilihat didengar, dirasakan, dikerjakan, dan dialalami sehari-hari harus mengandung unsur pendidikan. c. Sistem pembiasaan, dilaksanakan dengan program-program pendidikan dari yang ringan sampai yang berat dengan penuh disiplin. Terkadang jika terpaksa harus dengan pemaksaan. d.Sistem pengarahan. Seluruh kegiatan diawali dengan pengarahan, terutama tentang nilai-nilai pendidikan yang terkandung didalamnya dll.

 

  1. 3.      Sistem Pengajaran.

Ada dua tingkat jenjang pendidikan dan pengajaran di PMDG.  Yaitu tingkat menengah dan tingkat perguruan tinggi. Untuk memperlancar kegiatan pendidikan dan pengajaran tingkat menengah kegiatan ini ditangani oleh KMI, sedangkan untuk tingkat tinggi ditangani oleh ISID. KMI merupakan salah satu lembaga yang ada di PMDG, yang mengurus aktivitas akademis, dimana sistem perjenjangannya sudah dilaksanakan sajak tahun 1936. Sistem ini terbagi menjadi dua yaitu program reguler dan intensif. Untuk meningkatkan kegiatan di KMI, lembaga ini memiliki beberapa bagian: Proses Belajar Mengajar (PBM), Penelitihan dan Pengembangan Silabus (Litbang)Kurikulum, Karir Guru, Perpustakaan, Peralatan dan Tata Usaha. Bagian-bagian ini selalu mengadakan koordinasi antara satu bagian dengan bagian lain, minimal satu bulan sekali. Koordinasi ini dilakukan disamping untuk mengevaluasi juga untuk merencanakan program yang akan datang. Diantara program yang di laksnakan KMI yaitu : Pertama. kegiatan harian berupa tabkir, taftis i’dad, naqdu tadris dan at-taallum al-muwajjah. Kedua. Kegiatan mingguan, dilaksankan untuk koordinasi seluruh guru yang dipimpin langsung oleh Pimpinan Pondok dan Direktur KMI. Koordinasi mingguan ini lebih dikenal dengan sebutan kemisan. Ketiga kegiatan tengah tahunan. Kegiatan ini meliputi ulangan umum baik diawal maupun diakhir tahun. Keempat kegiatan tahunan. Kegiatan ini meiliputi penerimaan santri baru, yudisium kelas V dan penataran Guru. Kegiatan penataran guru dilaksanakan untuk santri yang telas lulus di kelas VI dan dipilih menjadi guru di Gontor.

  1. 4.      Sistem Kaderisasi.

Sejarah bangkit dan tenggelamnya pensantren di Indonesia indentik dengan kebaradaan kyai atau pengasuhnya. Pesantren maju dengan pesat karena figur sang kyai yang bekerja keras dengan segala pengorbananya. Demikian sebaliknya, pesantren mengalami penurunan atau bahkan sampai mati karena ditinggalkan kyainya. Sejarah terpuruknya pesantren di Indonesia tersebut telah memberikan pelajaran berharga bagi kelangsungan Pondok Modern Gontor. Para pendiri Gontor tidak mau melihat pondoknya mati karena ditinggalkan kyai atau pendirinya. Untuk menghidari kemungkinan buruk dan kelangsungan pondok, TRIMURTI telah mengambil langkah-langkah berani dan strategis yang belum pernah ada dalam sejarah pesantren di Indonesia. Yaitu dengan mewakafkan lembaga yang didirikannya kepada ummat Islam. Nadzir yang dipercaya untuk menerima wakaf tesebut adalah para alumni Gontor yang siap meneruskan estafet kepemimpinan di Gontor.

Dengan diserahkannya Pondok Gontor dari wakif ke nadzir (Badan Wkaf Pondok Modern Gontor), secara tidak langsung Gontor telah mengawali proses kaderisasi kepemimpinan pesantren, bahkan, telah lama dipersiapkan. Proses kaderisasi di PMDG, secara langsung dilaksanakan dengan berbagai langkah yang mencakup: Uswah hasanah, pengarahan, penugasan, pendekatan, pelibatan dengan kegiatan pondok, pemberian motivasi, pembekalan, pembinaan lahir dan batin. Pembinaan dilaksanakan secara berjenjang, yakni dari kyai, guru-guru senior, yunior, santri kelas VI, hingga santri kelas I, dengan mengunakan media seluruh kegiatan yang ada di Pondok. Semua penghuni pondok, harus terlibat secara aktif  dalam semua kegiatan yang ada. Sehingga karenanya semua merasa ada kepentingan dengan berlangusungnya kegiatan. Dengan terlibatnya kyai, guru, dan santri terhadap semua kegiatan pondok secara langsung, maka sesungguhnya proses kaderisasi sedang berlangsung. Guru-guru dan santri sebagai kader kyai, masing-masing memahami kegiatan Pondok. Maka kalau pun toh kyainya uzdur atau meninggal maka harapanya guru-guru atau santri, harus dan sudah siap meneruskan  perjuanganya.

  1. 5.      Sistem Pendanaan.

Salah satu prinsip yang menjadi kekuatan Pondok Modern Gontor adalah kemandirian. Madiri dalam segala seginya termasuk dalam pendanaan kegiatan pendidikan dan pengajaran.  Untuk menopang dan mempertahankan kegiatan pendidikan dan pengajaran di pondok diperlukan adanya sumber dana. Sumber dana di Pondok Modern Gontor dimulai sejak awal berdiri hingga sampai sekarang terus digali, bahkan ditingkatkan dengan berbagai usaha seperti: perkebunan, pertanian, pertenakan, idustri, pertokoan dll.Usaha-usaha tersebut semua dikelola oleh santri dan guru. Unit usaha yang dikelola oleh santri berlokasi didalam Pondok, sementara usaha yang ditangani oleh guru berada di dalam dan di luar Pondok. Hasil usaha yang diperoleh dari usaha-usaha tersebut semua digunakan untuk kebutuan santri dan guru. Sehingga dengan demikian dalam hal pendanaan apa yang menjadi kebutuhan dapat dicukupi oleh santri dan guru.

Masalah dana, Pondok tidak selalu menggantungkan pemberian kepada pihak lain ataupun  subsidi pemerintah. Meskipun demikian bukan berarti tidak mau menerima sumbangan dari pihak lain. Sepanjang bantuan itu tidak mengikat maka pondok akan menerimanya dengan tangan terbuka. Dengan sistem pendanaan yang baik maka seluruh kegiatan bisa dikatakan berjalan dengan baik, meskipun demikian terus dilakukan perbaikan. Dan masih banyak lagi sistem tata kehidupan di Pondok yang menjadi khas Gontor yang belum bisa disebutkan disini.

Integrasi pengejawantahan sistem kegiatan dalam sebuah lembaga pendidikan pesantren yang sarat nilai keislaman, penuh disiplin dan kosisten seperti itu, dalam catatan Nurcholisd Majid, membuat Gontor menjadi lebih sebuah masyarakat mini dengan tingkat keadaban tinggi. Dalam bahasa yang ekstrim bahwa sejatinya Gontor sedang dan telah memproduk suatu varian baru dalam khazanah budaya yang ada. Yaitu budaya yang sarat nilai dan disiplin tinggi. Itulah sesungguhnya yang bisa disebut dengan peradaban Gontor..

Dasar-dasar peradaban itu, telah diletakkan oleh TRIMURTI dan akan terus menjadi  pondasi kokoh bagi pengembangan dan penyebaran  peradaban selajutnya. Setelah K.H. Imam Zarkasyi meninggal, maka sejak saat itu, estafet kepemimpinan Gontor beralih, dari genarasi pertama ke generasi kedua. Dalam sidangnya, Badan Wakaf menetapkan tiga pimpinan Gontor yang baru yaitu: K.H. Soiman Luqmanul Hakim, K.H. Abdullah Syukri Zarkasi, MA dan K.H. Hasan Abdullah Sahal. K.H. Soiman Luqmanul Hakim wafat tahun 1999, pada saat itu melalui sidang Badan Wakaf, beliau digantikan oleh K.H. Drs. Imam Badri, sampai beliau wafat pada tahun 2006, kemudian dalam sidangnya Badan Wakaf menetapkan K.H. Syamsul Hadi Abdan sebagai penggantinya. Pimpinan Pondok itulah yang saat ini mengawal, mengembangkan dan mentransformasikan peradaban Gontor ke berbagai wilayah dalam dan luar negeri.

 

  1. Transformasi Peradaban

Untuk kemaslahatan yang lebih luas dan agar menjadi rahmatan lilalamin, generasi kedua melakukan pengawalan, pengembangan dan transformasi peradaban Gontor. Trasnformasi internal meliputi wilayah santri, guru dan keluarga Pondok, sementara wilayah eksternal mencakup wilayah wali santri, masyarakat, tokoh masyarakat dan pemerintah. Metode penyebaran nilai dan sistem Gontor ke wilayah internal disebarkan  dengan menggunakan instrumen: keteladanan, penugasan, penciptaan lingkungan, pengarahan dan pembiasaan.

Keteladanan seorang kyai, guru, pengasuh dan santri menjadi media pendidikan yang sangat efektif. Dengan keteladanan dari semua pihak, masing-masing merasa bertangungjawab atas terselenggaranya kegiatan Pondok. Semua merasa terkontrol dan memiliki rasa tanggungjawab untuk selalu memberi yang terbaik kepada yang lain. Metode lain adalah penugasan. Metode ini dilakukan dengan pelibatan dalam penyelenggaraan kegiatan-kegiatan kependidikan. Selain kedua metode diatas ada juga pola penciptaan lingkungan. Hali ini dimaksudkan sebagai langkah mengkondisikan santri dalam suasana pendidikan. Sehinga semua yang dilihat, didengar,  dirasakan, dan dialami sehari-hari harus mengandung unsur pendidikan. Pola lain yang selalu di tekankan dalam menyelenggarakan kegiatan adalah pengarahan. Pengarahan mesti dilakukan setiap saat sebelum mengawali semua kegiatan, dengan harapan agar semua memahami nilai-nilai filosofis setiap kegiatan. Selain keempat metode diatas, santri dan guru juga dibiasakan menjalankan program-program pendidikan dari yang ringan ke yang berat dengan disiplin tinggi. Terkadang pemaksaan juga diperlukan.

Wali santri, masyarakat, tokoh masyarakat dan pemerintah adalah wilayah eksternal yang menjadi perhatian dan sasaran penyebaran nilai-nilai Gontor. Untuk mengenalkan dan mentransformasikan peradaban Gontor, mereka disentuh melalui berbagai media seperti: tulisan, lisan, perbuatan, pendekatan dan kenyataan. Penerbitan Warta Dunia (wardun) Pondok Modern Gontor, Majalah Gontor, Jurnal Tsaqofah (ISID), Jurnal Fakultas, Majalah Dinding dan Media Masa turut ambil bagian dalam mentransformasikan nilai dan ajaran Gontor. Selain penerbitan (tulisan), metode lisan seperti: khutbatul arsy, acara kemisan, silaturrahim pada bulan Syawal, kunjungan beberapa tamu pejabat dan berbagai pertemuan penting lain, juga menjadi sarana efektif untuk mentransformasikan tentang ajaran Gontor.

Marketing periklanan seperti yang dipahami secara umum, tidaklah di gunakan  Gontor, melainkan kiprah para alumni di masyarakat dengan segala kelebihan dan kekurangannya telah menjadi magnet ampuh yang bisa meyebarkan ajaran Gontor. Yang tidak kalah pentingnya lagi, bahwa sikap tingkah laku dan kesungguhan semua keluarga Gontor, utamanya para pimpinan Pondok dalam meramu kegiatan Pondok, menjadi daya pikat tersendiri bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat terhadap Gontor. Fakta lain yang bisa menjadi instrumen penyebaran peradaban Gontor ke wilayah eksternal, adalah realitas bahwa secara umum Pondok Modern Gontor maju dan berkembang. Santri dan guru-guru terarah dan terkendali, kualitas akademis meningkat, sarana dan prasarana meningkat, alumni tetap berkualitas dengan segala kekuranganya.

 Saat ini hampir masyoritas -untuk tidak mengatakan semua- keluarga, guru, alumni dan anak cabangnya memiliki jaringan kerja, wilayah binaan dan perjuangan, baik dalam bentuk: masjid, langgar, surau, mushola, pesantren, halaqoh, lembaga pendidkan dari tingkat pemula seperti TPA, Play Group, Pesantren Anak Sholeh dll., memiliki komitmen  tinggi untuk menyebarkan nilai dan ajaran Gontor. Bahkan oleh sebagian kalangan luar dan dalam negeri, Gontor telah dijadikan sebagai model pendidikan alternatif. Semoga dengan meluasnya individu, keluarga, kelompok, lembaga dan pemerintah yang menjadikan nilai dan sistem Gontor sebagai acuanya, benar-benar menjadi lebih berkahi dari sebelumnya.

 Itulah peradaban Gontor serba selintas. Saat ini Gontor telah beranak-pinak menjadi sekitar 15 cabang dan 211 balai pendidikan serupa di dalam dan diluar tanah air oleh para alumninya.Untuk menyongsong tantangan peradaban yang semakin global, Insya Allah, Gontor akan mampu menjawab tantangan itu seperti sejak ia didirikan telah mampu, dengan taufik dan hidayah-Nya.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: