Dasar-dasar Epistemologi Islam: Diskursus Pemikiran Kalam Kontemporer

  1. Pendahuluan

Epistemologi sebagai bagian dari filsafat memiliki berbagai pengertian. Azumardi Azra seperti dikutip Mujamil Qamar dalam bukunya Epistemologi pendidikan Islam, menjelaskan, bahwa epistemologi merupakan ilmu yang membahas tentang keaslian, pengertian, struktur, metode dan validitas ilmu pengetahuan. Hal senada juga disampaikan Dagoberrt D. Runes yang menyatakan, bahwa epistemologi adalah ilmu yang membahas tentang sumber, struktur, metode-metode dan validitas ilmu pengetahuan.[1] Agak berbeda dari kedua pengertian di atas, tetapi sesungguhnya hampir mirip disampaikan Abdul al-Jabbar. Dia membedakan antara istilah “pengetahuan” sebagai (knowledge, non ilmiyah) dengan (science, pengetahuan ilmiyah). Dalam kaitanya dengan istilah itu, Abdul al-Jabbar menggunakan tiga istilah yaitu; ilm, ma’rifah dan dirayah yang dianggapnya memiliki sinonim sama. Tiga istilah tersebut menurutnya memiliki pengertian sama, tidak ada perluasan makna. Sehingga istilah-istilah tersebut berbeda dengan istilah epistemologi pada umumnya. Tidak mempresentasikan struktur fondamental pembeda antara aspek ilmiyah dan non ilmiyah pengetahuan.[2] Dari berbagai pengertian di atas, setidaknya dapat disimpulkan bahwa sejatinya epistemologi sangat erat dengan struktur, sumber, metode dan validitas pengetahuan.

Oleh karena itu, epistemologi memiliki kedudukan penting dalam rancang bangun disiplin keilmuan. Epistemologi menentukan corak, warna dan validitas kebenaran sebuah ilmu. Corak dan warna ilmu sangat tergantung pada epistemologi yang digunakan. Sementara teori pengetahuan atau epistemologi yang menghasilakan disiplin ilmu itu, kualitas dan keabsahannya sangat tergantung pada pandangan dunia yang dimilikinya. Paradigma keilmuan seorang ateis,  berbeda dengan seorang ilmuan yang memiliki basis keilmuan religi. Pandangan hidup yang memiliki elemen kepercayaan terhadap Tuhan misalnya, sudah tentu akan menerima pengetahuan non-empiris. Sebaliknya pandangan hidup yang mengingkari eksistensi Tuhan akan menafikan pengetahuan non-empiris dan pengetahuan lainnya. Demikian pula pandangan hidup ateis akan menganggap sumber pengetahuan moralitasnya hanyalah sebatas subyektifitas manusia dan bukan dari Tuhan [3]

Dasar-dasar epistemologi Islam, sudah sangat jelas, corak, warna dan sumbernya. Sebagai agama wahyu, Islam telah jelas konsep-konsep dasar teologis dan ibadahnya. Islam tidak mengalami evolosi. Ummat Islam sepanjang sejarah dalam hal-hal yang bersifat pokok tidak pernah berbeda pendapat, seperti masalah bahwa Allah itu satu, Muhammad adalah utusan Allah dan manusia biasa, Nabi Isa adalah utusan Tuhan bukan Allah, shalat lima waktu itu wajib, semua menunjukkan, adanya Islam yang satu.[4] Dalam Islam ada yang qat’i, dan ada yang relatif atau dzanny. Meskipun demikian, karena pengetahuan ummat Islam sangat beragam, terlebih pemahaman mengenai hal-hal yang bersifat qat’i dan dzanny itu, belum sepenuhnya dimengerti, maka timbulah berbagai persoalan. Liberalisasi pemikiran dikalangan sebagian kelompok generasi muda Islam tak bisa dibendung bahkan tumbuh dengan subur. Sesuatu yang mestinya tidak boleh berubah, dengan alasan kontekstual, diupayakan dan dipaksakan untuk disesuaikan dengan konteks. Ada kelompok pemikir muslim yang menawarkan perluanya pluralisme, humanisme, kesetaraan gender dan lain sebagainya dalam mendialogkan Islam dengan budaya lokal. Perubahan persoalan-persoalan qat’i yang dipaksakan akan mengeser permasalahan epistemologi dan berujuang pada perubahan paradima. Jika paradima telah berubah, maka secara perlahan akan merambah pada wilayah pemahaman seseorang terhadap hal-hal yang dasar. Hal yang demikian terjadi karena minimnya pemahaman ummat tentang dasar epistemologi Islam, maka pembahasan mengenai prinsip epistemologi Islam sangat tepat dilakukan. Dasar-dasar epistemologi Islam, yang telah di ajarkan oleh Nabi dan yang deteruskan oleh sahabat dan dikembangkan oleh para ulama salaf dari ahli sunah wa al-jama’ah perlu didiskusikan disini.

Mendiskusikan secara intens tentang persoalan-persoalan mendasar (kalam) dari yang berkenaan af’al Tuhan dengan segala sifat-Nya sampai pada persoalan al-qur’an, apakah baru atau qadim, sebenarnya telah dilakukan oleh para mutakalimun. Mereka dengan penuh semangat membahas, mendiskusikan persoalan-persoalan dasar, hingga masing-masing aliran berpegang pada keyakinannya sampai perselisihan tak dapat dihindari, bahkan saling mengklaim akan kebenaran pendapatnya. Ketegangan antar kelompok tersebut terjadi karena pandangan dunia yang berbeda, sehingga  tampak sulit untuk dikompromikan. Meskipun demikian, bukan berarti ummat Islam dewasa ini tidak bisa mengambil manfaat dari adanya perbedaan itu. Dengan adanya perbedaan tersebut, ummat Islam justru dituntut utuk mengambil (hikmah) jalan yang bijak dan selalu giat dalam mendiskusikan, mengembangkan dan memperkaya khazanah keilmuanya. Dengan cara sperti itu tradisi keilmuan Islam diharapkan bisa berkembang dengan baik sehingga mampu memberikan konstribusi besar dalam membangun kembali peradaban  Islam.


[1] Prof. Dr. Mujamil Qamar, M. Ag. Epistemologi Pendidikan Islam, Erlangga, tt., hal. 4

[2] Wardani, Epistemologi Kalam Abad Pertengahan, PT LKiS Pelangi Aksara, 2003, hal. 49

[3] Lihat Hamid Fahmi Zarkasyi, Pandangan Hidup, Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan Islam, makalah disampaikan pada workshop Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan di Sekolah Tinggi Lukman ul Hakim, Hidayatullah Surabaya, 12-13 Agustus 2005.

[4] Adian Husain,  Hegemoni Kristen-Barat dalam studi Islam di Perguruan Tinggi, Gema Insani Press, 2006, hal. 106

Leave a comment

KRITIK PENOLAKAN FATIMAH MERNISI (FEMINIS) TERHADAP DOMINASI KEPEMIMPINAN LAKI-LAKI DALAM ISLAM A. Pendahuluan Kepemimpinan merupakan persoalan politik dan dunia kekuasaan yang selalu menarik minat banyak pihak, tak terkecuali kaum perempuan. Persoalan politik yang dulu lebih didominasi kaum laki-laki dewasa ini telah mengalami perubahan berarti seiring dengan hangatnya tuntutan kesetaraan gender. Kaum feminis radikal yang selalu memperjuangkan kesataraan gender melihat bahwa dominasi laki-laki dalam kepemimpinan Islam harus di putus sehinga tercapailah kesamaan hak laki-laki dan perempuan. Salah satu upaya untuk mensuksekan perjuangan mereka adalah dengan menolak setiap bentuk doktrin dan apapun yang menyudutkan kaum perempuan. Sekalipun hadis shahih (yang menjadi sumber kedua dalam Islam), tetapi apabila dianggap merugikan mereka, maka tidak segan-segan mereka menolaknya dengan berbagai cara. Salah satu hadis yang ditolak oleh kaum feminis adalah hadis Nabi yang diriwayatkan oleh al-Bukhori yang menyebutkan bahwa, “ Suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada seorang perempuan tidak akan memperoleh kesejahteraan”. Penolakan hadis tersebut menurut Mernisi didasarkan pada fakta historis dan meotdologis. Dalam temuan penelitihannya didapatkan, ternyata sejarah kemunculan hadis tersebut didasarkan pada peristiwa terjadinya peperangan antara Romawi dan Persia. Ketika salah satu Raja Persia terbunuh banyak orang mengklaim hak atas tahta sasanit (bagian dari Persia) termasuk diantaranya adalah dua perempuan. Tidak lama kemudian mereka ternyata telah memilih seorang perempuan menjadi gubernur di bagian Persia itu. Maka setelah Rasulullah SAW mendengar kabar tersebut Rasulullah langsung menyampaikan hadis diatas. Menurut Mernisi setelah peristiwa itu terjadi al-Bukhori perawi hadis diatas, tidak pernah melacak bagaimana insiden itu terjadi tetapi hanya menerima laporan dari Abu Bakrah . Siapakah Abu Bakrah ? Dalam kajian Mernisi didapatkan Abu Bakrah adalah seorang sahabat Rasul yang pernah berbohong ketika menjadi saksi atas tuduhan perzinaan yang dialamatkan kepada sahabat Nabi Al-Mughirah bin Sufyan. Lebih dari pada itu Abu Bakrah dalam meriwayatkan hadist tersebut penuh dengan muatan politk yang tidak fair. Maka bagaimana mungkin hadis tersebut dijadikan pedoman ? hadis tersebut tidak layak dijadikan pedoman untuk melegitimasi kepemimpinan laki-laki atas perempuan dan oleh karenaya menurut Mernisi harus ditolak karena sangat merugikan kaum perempuan. . B. Biografi Fatimah Mernisi Fatimah Mernisi (Maroko, lahir 1940), adalah seorang feminis Arab Muslim yang terkenal, merupakan generasi pertama perempuan Maroko yang mendapat kesempatan memperoleh pendidikan tinggi. Mendapatkan gelar doktoralnya dalam bidang sosiologi di Amerika Serikat pada tahun 1973. Mernisi adalah perempuan muslim pertama di Timur Tengah yang sukses dalam membebaskan dirinya dari isu tentang kesetiaan dan pengkhianatan cultural. Salah satu tema yang sering diangkat kepermukaan adalah perlakuaan yang salah terhadap perempuan dalam masyarakat Islam. C. Teks Hadis حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ الْهَيْثَمِ حَدَّثَنَا عَوْفٌ عَنِ الْحَسَنِ عَنْ أَبِى بَكْرَةَ قَالَ لَقَدْ نَفَعَنِى اللَّهُ بِكَلِمَةٍ سَمِعْتُهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَيَّامَ الْجَمَلِ ، بَعْدَ مَا كِدْتُ أَنْ أَلْحَقَ بِأَصْحَابِ الْجَمَلِ فَأُقَاتِلَ مَعَهُمْ قَالَ لَمَّا بَلَغَ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنَّ أَهْلَ فَارِسَ قَدْ مَلَّكُوا عَلَيْهِمْ بِنْتَ كِسْرَى قَالَ « لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمُ امْرَأَةً » .) رواه : البخاري) Ustman ibn Haistam dan Auf menceritakan kepada kami dari Hasan dari Abu Bakrah. Berkata Abu Bakrah, Allah telah menganugerahkan kepadaku sebuah kalimat yang aku dengar dari Rasulullah S A W pada saat perang unta. Setelah hampir ketemu, bahwa kebenaran berada pada pasukan unta, maka kami berperang bersama mereka, berkata Abu Bakrah, ketika berita itu telah sampai kepada Rasulullah, ternyata bangsa Persia itu telah memilih diantara anak raja Kisra yang perempuan sebagai pemimpin mereka, berkata Nabi Muhammad, “tidak akan beruntung suatu bangsa yang menyerahkan urusanya kepada seorang perempuan”,. (Hadist diriwayatkan oleh : al-Bukhori). Keterangan Hadist Menurut penjelasan yang disampaikan oleh Ibn Hajar al-Aqolani dalam Fath al-Bari, bahwa hadist di atas terkait dengan yang diceritakan Abu Bakrah, bahwa ketika Abu Bakra ditanya oleh seorang sahabat, wahai Aba Bakrah siapa yang mealrangmu untuk memerangi kaum Basrah pada saat perang unta ? Aba Bakrah berkata, kami telah mendengar Rasulullah berkata, bahwa tidak mendapat keberuntungan dan hancurlah ketika suatu bangsa keluar dalam pertempuran dipimpin oleh seorang perempuan. Maka kemudian hadis tersebut ditunjukkan oleh Abu Bakrah dan sejak saat itu pula Abu Bakrah melarang berperang bersama mereka. Riwayat lain menyebutkan bahwa, ketika Umar ibn Saibah, dari Hasan dari A’isayah, ketika mengirim utusan ke Abu Bakrah, berkatalah Abu Bakra, sesungguhnya engkau adalah ibu kami dan sesungguhnya hak engakau sangat besar, tetapi Rasulullah pernah menyampaikan, tidak akan beruntung suatu kaum yang meyerahkan urusannya kepada perempuan. Dari uraian diatas disimpulkan seakan Abu Bakrah meragukan pendapat dan apa yang telah dilakukan oleh Ai’syah, tetapi sesungguhnya pendapat Abu Bakrah sama dengan pendapat Aisya yang menghendaki rekonsiliasi antara semua manusia yang bertikai, dan tidak bermaksud ingin berperang. Tetapi ketika peperangan bersama Aisaya tidak bisa dihindarkan lagi, dan Abu Bakrah masih dalam pendirianya yang pertama dan tidak memihak kepada Aisayah, maka Abu Bakrah kemudian mengambil firasa,t bahwa mereka akan kalah ketika bersama Aisyah, sebagaimana yang ia dengar pada kasus bangsa Persia. Berkata Bakrah, ini mengindikasikan, sesungguhnya masih ada seseorang yang masih dalam pendapatnya, bahwa Aisyah dan pengikutnya memerangi Ali untuk mendapatkan Khilafah. Dan tidak memilih diantara mereka untuk menjadi Khilafah, bahkan Aisyah dan pengikutnya menginkari kekholifahan Ali karena tidak menghukumi siapa yang membunuh Usman, bahkan Ali cenderung membiarkanya. Sementara Ali dan kelompoknya menunuggu kelompok Usman untuk menghukuminya sendiri. Maka ketika akan diputuskan salah satu yang membunuh Usman dan dihukuminya, maka dalam hal ini kemudian terjadilah berselisih pendapat, dan takut siapa diataran mereka yang dihukumi sebagai pembunuh Usman ? maka terjadilah perselihan dan peperangan diatara mereka yang mestinya tidak terjadi. Maka setelah terjadi peperangan tersebut, ketika Ali keluar bersama mereka, Ali memuji pendapat Abu Bakrah yang menghendaki untuk menghindari peperangan diantara mereka, meskipun pendapatnya sesungguhnya sama dengan pendapat Aisyah dalam meminta pembebasan Usman. Penjelasan ibn Hajar ini dapat dismpulkan, bahwa ketika perselisihan tak dapat dihindarkan kemudian keputusan tetap dilakukan (oleh kelompok Aisyah) maka peperangan tak dapat dihindari. Perselisihan dan perpechan bahkan sampai pada peperangan tersebut sesungguhnya bermula dari keputuasan yang rapuh yang diambil Aisyah. Hal demikian juga sekaligus membuktikan akan kelemahan Aisyah dalam memimpin pengikutnya, sehingga terjadilah peperangan yang semestnya tidak terjadi, dan benarlah firasat Abu Bakrah akan kekalahn mereka. D. Penelusuran Sanad Berdasarkan penulusuran sanad hadis yang dilakukan melalui Software: Maktabah Syamilah, penulis menemukan dua puluh sembilan (29) hadis yang terkait dengan hadis diatas. Dari 29 hadis tersebut semuanya bermuara pada satu sumber (jalur), yaitu sahabat Nabi Abu Bakrah. Dari penelusuran hadis diatas dapat disampaikan disini bahwa memang benar hadis yang menyoroti tentang kepemipninan perempuan tersebut hanya diperoleh melalui satu pintu yaitu sahabat Abu Bakrah. E. Skema Sanad F. Studi Sanad Dari hasil penemuan hadis diatas makalah ini mencoba melakukan penelitian sanad, yang dikritik oleh kaum feminis sebagai sanad yang tidak bisa dipertangungjawabkan. Kritik dan tuduhan tersebut menyatakan bahwa Abu Bakrah sebagai satu-satunya sumber hadis diatas dianggab sebagai pembohong karena tidak mampu menunjukkan bukti tuduhanya saat menjadi ‘salah satu saksi dari empat saksi’ atas perzinaan sahabat Nabi Al-Mughirah bin Sufyan. Lebih lanjut Mernisi menuduh al-Bukhari sebagai seorang perawi hadis yang tidak sungguh-sungguh. Apa yang dilihat Mernisi pada kasus Abu Bakrah dan al-Bukhari diatas mungkin akan segera mengatakan suatu kewajaran jika di coba dilihat secara kritis akar permasalahn yang menjadi pijakan analisisnya. Dalam mengkitisi kasus tersebut Mernisi menggunakan pendapat ulama fikih yang terkenal yaitu Imam Malik yang dianggap sebagai basis studi keagamaan pada khazanah kesilaman (ilmu, keabsahan sejarah, moralitas otoriatas hukum). Seperti misalnya dia mengutip ungkapan Imam Maliki yang mengatakan : “Ada beberapa orang yang saya tolak sebagai perawi hadis, bukan karena mereka berbohong dalam perannya sebagai seorang berilmu dengan menyampaikan hadis-hadis palsu yang tak pernah dikatakan oleh Rasulullah SAW., tetapi semata-mata karena saya meilihat mereka berbohong dalam hubungan dengan sesamanya, dalam hubunganya sehari-hari yang tak berkaitan dengan ilmu keagamaan”. Menurutnya jika kaidah ini digunakan pada kasus Abu Bakrah maka, dengan segera Abu Bakrah bisa disingkirkan, karena salah satu biografinya dianggap pernah memberikan kesaksian palsu. Untuk melihat dan menguji sejauh mana kebenaran tuduhan tersebut maka penelitian sanad ini menarik untuk dilakukan. Adapun studi sanad ini dilakukan dengan rincian sebagai berikut : 1. Biografi perawi a. Ustman ibnu Hasyim Nama lengkap : Ustman ibnu Haistam ibnu Jahm ibnu Ais ibnu Hasan ibnu Mundir seorang Muadin di Basrah. Julukan : – Gelar : Peringkat ke 10 dari pembesar pengambil hadis dari tabiin Guru : Auf al-A’robi Murid : Ibrohim ibnu Shaleh al-Syaeroji Lahir : – Kritik Sanad : Tabiin yang terkenal dan stiqoh. Wafat : 220 H b. Auf Nama lengkap : Auf ibnu Abi Jamilah al-Abid al-Jahri Julukan :Abu Sahal al-Bashari, Auf al-A’robi. Gelar : Urutan keenam dari tabiin Guru : Hasan al-Basri Murid : Abdul Wahab as-Staqifi, Ustman ibnu Hasyim, Ali ibnu Asim al-Wasity dll. Lahir : 60 H Kritik Sanad : Seorang yang kuat dan stiqoh Wafat : 146 H c. Al-Hasan Nama lengkap : al-Hasan al-Basri Julukan : Yasar al-Basri, al-Anshori Maulahum Abu Said, Maula Zaid ibnu Stabit, Maula Jabir ibnu Abdillah. Gelar : Ahli Fiqih yang kuat. Guru : Abi ibnu Ka’bin, Usamah ibnu Zaid al-Kalbi, Abu Bakrah Nafi’ ibnu Haris al-Staqofi, Abu Hurairah dll. Murid : Umron al-Kosiri, Auf al-A’robi, Amru ibnu Abid dll. Lahir : – Kritik Sanad : Imam, Berkemauan Keras, Berdzikir Kuat, Gudang ilmu Wafat : 110 H d. Abu Bakrah Nama lengkap : Nafi’ ibnu Haris ibnu Kaldah ibnu Amru ibnu Alaj ibnu Abi Salmah Abu Bakrah. Julukan : Masruh, Nafi’ ibnu Masruh Gelar : Sahabat Nabi Guru : Nabi Muhammad SAW . Murid : Asas ibnu Sarmilah, Hasan al-Basri, Robi’I ibnu Huros. Lahir : – Kritik Sanad : Seorang sahabat yang selalu di panggil oleh Nabi Muhammad SAW untuk menjadi gaid dalam beberapa urusan, memiliki kemauan keras dalam berusaha, seorang sahabat yang shaleh, sahabat yang wira’I, Wafat : 51 H 2. Penilaian Sanad Untuk memperkuat temuan hasil takhrij, penulis melakukan telaah atas sanad sebagaimana yang tampak dalam biografi para perawi hadis di atas. Dari hasil telaah disimpulkan adanya kerterkaitan antara satu sanad dengan sanad lain. Hal ini sangat beralasan mengingat bahwa hubungan antara satu sanad dengan sanad sebelumnya sangat jelas dan sangat kuat. Hubungan sanad dimaksud adalah hubungan seorang guru dengan murid yang terus saling menyambung. Sehingga dimungkinkan sangat kecil keterputusan sanad terjadi. Analisa sanad yang tampak pada biografi di atas semua menggambarkan tidak adanya sanad yang perlu diragukan, hal demikian karena didasarkan pada pemberian label yang sangat baik oleh otoritas hadis. Adapun penilaian Mernisi setelah menggunakan standar penilaian Imam Malik dan kemudian dengan berani menyatakan bahwa Abu Bakrah sebagai sahabat pembohong, mungkin lebih tepat bila penilaian tersebut dikatakan sangat tendensius dan subjektif. Penilaian yang didasarkan pada “sikap diam salah satu diantara empat saksi,(tidak ada penjelasan secara rinci siapa sebenarnya diantara empat saksi tersebut yang diam) ketika ditanya Umar perihal kesaksianya menuduh Al-Mughirah bin Sufyan melakukan perzinaan,” adalah tidak bisa dijadikan bukti kuat bahwa Abu Bakrah adalah pembohong. Tetapi apabila melihat Abu Bakra dari sisi lain, bahwa dia adalah sebagai seorang sahabat Nabi yang selalu menjadi guide Nabi dalam beberapa urusan, memiliki kemauan keras dalam berusaha, seorang sahabat yang shaleh, sahabat yang wira’i, maka sebutan pembohong tersebut adalah tidak bijak. Tuduhan tersebut sangatlah mengada-ngada dan sengaja mencari titik kelemahan yang mungkin bisa dijadikan alasan atas pendapatnya. Pada sisi lain jika Mernisi selalu menilai dan menyampaikan keherannyanya kepada Abu Bakrah yang selalu ingat hadis Rasul tersebut, bukan semata Abu Bakrah memiliki muatan politik untuk menyampaikanya kepada yang lain tetapi semata karena memang hadis tersebut benar adanya. Bahkan sesungguhnya menurut Ibnu Hajar al-Askolani hadis tersebut telah disepakati oleh para jumhur . Bukan karena Abu Bakrah memiliki motif tersembunyi sebagaimana yang dituduhkan Mernisi. Atas realitas penjelasan teresbut, maka sesungguhnya tuduhan tersebut sangatlah tidak tepat. Mernisi belum cukup puas dengan menyalahkan dan menuduh Abu Bakrah sebagai sahabat pembohong, bahkan dia juga menggugat al-Bukhori sebagai perawi yang tidak sungguh-sungguh. Menurutnya al-Bukhari tidak mau melacak bagaimana sejarah hadis tersebut bisa sampai kepadanya, tetapi hanya sekedar menerima hadis tersebut begitu saja dari Abu Bakrah . Al-Bkhori bukan tidak menelusuri hadis tersebut begitu saja. Melainkan telah melakukan kajian yang cukup atas hadis tersebut, dengan argument bahwa dari 29 hadis yang diriwayatkan oleh para sahabat dan tabiin tak satupun yang berasal dari selain Abu Bakrah. Karena Abu Bakrah merupakan satu-satunya sumber hadis tersebut, maka penerimaan para sahabat dan tabiin yang diriwayatkannya jauh lebih kuat bila dibanding dengan tuduhan Mernisi. G. Studi Matan Karena yang menjadi persoalan inti dalam penolakkan Mernisi terhadap hadis di atas adalah persoalah kesahihan sanad, maka studi matan dalam takhrij disini tidak menjadi prioritas pembahasan. H. Kesimpulan Dari pemaparan di atas penulis dapat menyimpulkan hasil studi sanad ini sebagai berikut : pertama, bahwa kritik ataupun penolakkan Fatimah Mernisi terhadap Abu Bakrah (dan hadis yang diriwayatkannya), yang dinilai sebagai sahabat Nabi yang bohong adalah tidak fair. Mernisi lebih melihat dari sisi kelemahan Abu Bakrah tampa dibarengi dengan melihat sisi positip yang dimilikinya. Kedua, tuduhan Mernisi terhadap Abu Bakrah sebagai sahabat yang bohong karena sikap “diam” salah satu diantara empat saksi perzinaan yang dimaksud, belum tentu tertuju kepada Abu Bakrah, oleh karenanya tidak bisa dijadikan bukti bahwa Abu Bakrah adalah pembohong. Ketiga, keberanian Mernisi menghujat al-Bukhari sebagai perawi yang tidak sungguh-sungguh menunjukkan sikap tendensius yang tidak berdasar. Fakta 29 sahabat dan tabiin yang terlibat dalam meriwayatkan hadis yang bersumber dari satu jalur, bukankah jauh lebih kuat bila dibandingkan dengan kritik Mernisi yang dialamatkan kepada al-Bukhori. Keempat, dari keterangan yang disampaikan oleh Ibn Hajar, mengindikasikan bahwa terjadinya peperangan kelompok pengikut Aisyah pada peristiwa perselisihan antara kedua kelompok muslim, tentang masalah pembuhun Usman yang tidak segera dihukumi oleh Ali, adalah bukti baru tetang kebenaran firasat Abu Bakrah. Tidak akan beruntung jika suatu bangsa menyerahkan urusannya kepada perempuan. DAFTAR PUSTAKA Al-Asqolani, Ibnu Hajar, Fathul Bari, al-Fitnah allati Tamuuju Kamauji Bahri, (Shofwer : al-Maktabah al-Syamilah). Al-Bukhari al-Ja’fi, Muhammad Ibnu Ismail Abu Abdillah, al-Jaamiu al-Sahih al-Mukhtasyar, Darul Ibnu al-Kastir Baerut Yaman, Cetakan ke III, 1987/1407, al-Maghoozi Bab Kitab Nabi kepada Kisra dan Kaesar, (Shofwer : al-Maktabah al-Syamilah). Al-Mizzi, Yusuf Ibnu Zaqi Abdurrahman Abu al-Hujaj, Kitab Tahdib al-Kamal, Muassas al-Rissalah, Beirut, Cetakkan Pertama, 1980/1400, Diteliti oleh Basar Awad Ma’ruf. Fadilah, Dra. Hj. M. Ag, Menyingkap Mutiara dan Kualitas Hadis, eLKAF, 2003. Mernisi, Fatimah, dalam Charles Kurzaman(Ed.), Wacana Islam Liberal Pemikiran Islam Kontemporer tentang isu-isu Global, Paramadina, 2001.

rajin-rajinlah dalam membaca buku dan simpan di sini

Leave a comment

Buku

Leave a comment

Peradaban Gontor

PERADABAN GONTOR

Oleh : Jarman Arroisi

15 Oktober 2010

Sebagai salah satu lembaga pendidikan pesantren terbesar di Indonesia, Pondok Modern Darussalam Gontor telah memberikan kontribusi berarti dalam pembangunan peradaban ummat. Sejak awal didirikannya tahun 1926, hingga sekarang  Gontor telah dan akan terus memproduksi alumni yang terjun diberbagai aspek kehidupan masyarakat.  Para alumni itu, telah merasakan gemblengan suasana kehidupan pesantern dengan disiplin tinggi, tegas, dibarengi tradisi saling menghargai sesama santri dalam semangat persamaan yang tulus. Setelah digembleng dalam kawah condrodimuko dengan penuh komitmen mereka berangkat menyebarkan kultur Gontor ke berbagai: kelompok, lembaga, organisasi, partai dan stratifikasi masyarakat. Namun disayangkan, derasnya hembusan arus budaya global terus membayangi dan bahkan menjadi tantangan tersendiri bagi transformasi budaya Gontor, sehingga budaya yang sarat nilai itu, belum menembus kalangan luas.

  1. Pendidikan dan Peradaban

Dari segi definisi, peradaban berbeda dengan kebudayaan, kedua kata ini telah banyak didefinisakan oleh para antropolog. Namun demikian, definisi-definisi itu masih mengacu pada beberapa komponen seperti nilai-nilai, kebiasaan yang dianut oleh masyarakat, misalnya bahasa dan teknologi. Melville J. Herskovits  mengatakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Sementara Selo Soemardjan, berpendapat bahwa kebudayaan adalah hasil karsa, rasa dan cipta masyarakat.

Sama halnya dengan kebudayaan. Peradaban juga memiliki berbagai pengertian yang ada kaitanya dengan masyarakat. Peradaban umumnya memiliki makna: tinggi rendahnya budaya masyarakat tertentu. Masyarakat dikatakan beradab manakala memiliki kebudayaan yang tinggi. Yang dinilai dari peradaban adalah pemikiran-pemikiran atau gagasan-gagasan yang  hidup pada masyarakat tersebut, juga prilaku dan hasil-hasil budaya yang berwujud artefak atau fisik misalnya: perangkat dapur, bangunan, kedaraan dan lain sebagainya. Dalam kaitan ini, antara kebudayaan dan peradaban memiliki keterkaitan yang sangat erat, karena yang menjadi parameter sebuah peradaban tersebut adalah hasil-hasil dari kebudayaan yang wujudnya: pemikiran / ide, prilaku hasil budaya yang berwujud fisik. Pimpinan Pondok Modern Gontor, Dr. KH. Abdullah Syukri Zarkasysi, MA, juga menyampaikan pendapat senada, bahwa peradaban adalah integrasi antara tsaqofah dan madaniyah. Tsaqofah ataupun hadloroh merupakan sekumpulan nilai, ide, ilmu, jiwa prilaku manusia yang bersifat  abstrak. Sedangkan Madaniyah merupakan bentuk-bentuk fisik dari benda-benda yang terindera yang digunakan dalam berbagai aspek kehidupan. Tsaqofah/hadloroh bersifat khas, sesuai dengan pandangan hidup. Sementara madaniyah bisa bersifat khas, dan boleh bersifat umum. Bentuk madaniyah yang bersifat khas bisa berbentuk patung, mobil dll. Sedangkan madaniyah yang bersifat umum bisa seperti kemajuan sain dan teknologi yang menjadi milik seluruh umat manusia. Kolaborasi antara keduanya merupakan manefestasi peradaban. Dan masih banyak lagi definisi-definisi tentang peradaban, ada yang menyamakan dengan kebudayaan dan ada juga yang membedakannya. Dalam bahasan ini tidak akan dibahas mengenai perbedaanya, namun justru persamaan antara keduanya yang akan disandingkan dengan pendidikan.

Pendidikan sebagaimana disampaikan oleh para ahli merupakan sebuah proses pembentukan karakter anak yang sengaja diciptakan untuk membantu meningkatkan jasmani, rohani dan akhlaq. Prof. Dr. Tilaar mamaknai hakekat pendidikan sebagai suatu proses menumbuhkembangkan eksistensi peserta didik yang memasyarakat, membudaya dalam tata kehidupan yang berdimensi lokal, nasional dan internasional. Dalam membicarakan proses pendidikan dalam konteks ini dapat dirumuskan bahwa pendidikan merupakan suatu proses pembudayaan dan peradaban. Tidak mungkin membangun sebuah peradaban tanpa adanya budaya. Namun bisa dan sah-sah saja mengembangkan  budaya tanpa menuju kemajuan.

Di dalam dunia yang semakin global dewasa ini proses pendidikan haruslah menggabungkan antara kedua konsep tersebut, yaitu membangun manusia yang  berbudaya dan beradab. Pendidikan haruslah mengandung proses menanamkan  benih-benih budaya dan peradaban menusia yang hidup dan dihidupi oleh nilai-nilai atau visi yang berkembang dan dikembangkan di dalam suatu masyarakat. Inilah sesungguhnya  yang disebut pendidikan sebagai sebuah proses peradaban.

  1. Membangun Peradaban

Jika memperhatikan realitas pendidikan sebagai suatu proses peradaban, maka sebagai salah satu lembaga pendidikan pesantren, Gontor tentu telah lebih dari cukup untuk memenuhi syarat dikatagorikan sebagai suatu institusi yang memberikan kontribusi berharga bagi pembangunan peradaban ummat. Sejarah proses peradaban Gontor dapat dibagi menjadi dua periode yaitu dari tahun 1926 s.d 1985 (masa pendiri Gontor Baru) dan dari tahun 1985 s.d sekarang (generasi kedua).

Titik awal peradaban Gontor dimulai ketika K.H. Ahmad Sahal salah satu dari TRIMURTI sebutan pendiri Gontor (K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainuddin Fananie dan K.H. Imam Zarkasyi) diundang mengikuti kongres ummat Islam di Surabaya mewakili karesidenan Madiun, dalam kongres tersebut disepakati untuk mengirim satu utuasan mengikuti Konfrensi Internasional Ummat Islam. Namun sangat disayangkan dari peserta yang hadir, tidak ada satupun peserta yang dipandang mampu menguasai dua bahasa sekaligus. Peristiwa minimnya ummat Islam yang memiliki kemampuan bahasa tersebut, telah mengilhami K.H. Ahmad Sahal sebagai salah satu peserta pertemuan untuk mengagas sebuah lembaga pendidikan yang mampu mengahsilkan alumni yang menguasai dua bahasa. Maka sekembalinya dari pertemuan tersebut K.H. Ahmad Sahal merealisasikan ide dan gagasanya dengan merintis lembaga pendidikan yang di beri nama Tarbiyatul Atfal (TA).

Proses belajar mengajar di TA diawali dengan media  sangat sederhana tetapi  sekalipun demikian telah dilaksanakan dengan penuh kesungguhan. Sambutan masyarakat terhadap kehadiran TA sangat positif sehingga karenanya bisa berkembang dengan pesat. Sepuluh tahun kemudian tepatnya pada tahun 1936 program pedidikan di Gontor ditingkatkan lagi menjadi Kuliyatul Muallimin Al-Islamiyah (KMI). Yaitu program pendidikan yang dirancang untuk persemaian guru-guru Islam. Sejak awal hingga memasuki tahun kesepuluh, introdoksi-introdoksi kemodernan di Gontor telah  diberlakukan, dengan bermacam-macam kegiatan: kepanduan, organisasi, aneka seni musik, kaligrafi, beladiri, olahraga, pidato dalam tiga bahasa dengan mengunakan kostum yang necis beradasi dll. Gontor terus melangkah dan mengadakan  modernisasi kegiatan. Pada tahun 1958, pendiri Pondok Modern Gontor menorehkan babak baru dalam sejarah pesantren, yaitu dengan mewakafkan pesantren Gontor kepada ummat Islam. Dengan diwakafkanya Pondok Gontor kepada ummat Islam, berarti kelangsungan hidup Pondok Gontor, bukan saja tergantung pada keluaraga pendiri tetapi sudah menjadi tanggungjawab ummat Islam bersama, utamaya para alumni dan lebih khusus para kader Gontor, yang memahami dan menghayati visi, misi, sunah, disiplin dan mau berjuang untuk Gontor. Setelah diwakafkan, Pondok Gontor terus berkembang dari segala seginya: perguruan tinggi IPD sekarang ISID telah berdiri,  Chizanatulalh terus bertambah dll. Namun Allah telah menentukan taqdir lain. Para pendiri Gontor itu belum bisa sepenuhnya melihat langsung kemajuan Gontor separti yang ada sekarang. Satu persatu TRIMURTI Gontor telah tiada hingga yang terakhir dari tiga bersaudara K.H. Imam Zarkasyi menghembuskan nafas terakhinya pada tahun 1985. TRIMURTI  telah tiada namun keharuman ide dan gagasanya selalu menjadi spirit bagi yang mengenalnya. Pendiri Gontor itu tidak sekedar memiliki ide sangat berlian, tetapi beliau-beliau itu telah mampu meramu sistem pendidkan pesantern  modern. Dan lebih dari segalanya, ide dan gagasan itu sangat jauh mendahului zamannya,  bahkan lembaga pendidikan yang dirintis dan dikelolanya merupakan tindakan sangat revolosioner.

Saat ini, gagasan dan ide itu telah menjadi pedoman bagi generasi kedua dan seterusnya termasuk pondok alumni dan anak cabangnya yang tersebar di dalam dan luar negeri. TRIMURTI telah berhasil meletakan dan membangun dasar-dasar pendidikan dan peradaban Gontor, yang dapat diklasifikasikan menjadi Nilai dan Sistem Pondok,  yang bisa dijelaskan sebagai berikut : Nilai-nilai Pondok terdiri dari  Panca Jiwa, Motto, Orientasi, Sintesa dan Falsafah. Sedangkan Sistem Pondok mencakup:  Kepemimpinan, Kepengasuhan, Pengajaran, Kaderisasi dan Pendanaan.

  1. Panca Jiwa Pondok Gontor
  2. Jiwa Keihlasan. Ikhlas berarti sepi ing pamrih, yakni berbuat sesuatu itu bukan karena didorong oleh keinginan memperoleh keuntungan tertenu. Segala pekerjaan dilakukan dengan niat semata-mata ibadah, lillah. Kyai ihlas dalam mendidik, santri ihlas dididik dan mendidik sendiri, dan para pembantu kyai ihlas dalam membantu menjalankan proses pendidikan.
  3. Jiwa Kesederhanaan. Kehidupan di dalam pondok diliputi oleh suasana kesederhanaan. Sederhana tidak berarti pasif atau nerimo, tidak juga miskin. Justru dalam kesederhanaan itu terdapat nilai-nilai kekuatan, kesanggupan, ketabahan dan penguasaan diri dalam menghadapi perjuangan hidup. Di balik kesederhanaan ini terpancar jiwa besar, berani maju, dan pantang mundur dalam segala keadaan. Bahkan di sinilah hidup dan tumbuhnya mental dan karakter yang kuat, yang menjadi syarat bagi suksesnya perjuangan dalam segala segi kehidupan.
  4. Jiwa Berdikari. Kesanggupan menolong diri sendiri merupakan senjata ampuh yang dibekalkan pesantren kepada para santrinya. Berdikari tidak saja dalam arti bahwa santri sanggup belajar dan berlatih mengurus segala kepentingan sendiri, tetapi pondok pensatren itu sendiri – sebagai lembaga pendidikan – juga harus sanggup berdikari sehingga tidak pernah menyandarkan kehidupannya kepada bantuan atau belas kasihan pihak lain.
  5. Jiwa Ukhuwah Islamiyah. Di pesantren, kehidpan diliputi suasana persaudaraan yang akrab, sehingga segala suka dan duka dirasakan bersama dalam jalinan persaudaraan seagama. Tidak ada lagi dinding yang dapat memisahkan antara mereka, meskipun berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda. Ukhuwah ini bukan saja selama di dalam  Pondok, tetapi juga mempengaruhi ke arah persatuan ummat dalam masyarakat sepulang para santri itu dari pondok.
  6. Jiwa Bebas. Bebas dalam berpikir dan berbuat, bebas dalam menentukan masa depan, bebas dalam memilih jalan hidup, dan bahkan bebas dari berbagai pengaruh negatif dari luar masyarakat (bukan bebas tanpa batas). Jiwa bebas ini akan menjadikan santri berjiwa besar dan optimis dalam mengahadapi segala kesulitan sesuai dengan nilai-nilai yang telah diajarkan kepada meraka di Pondok.

 

  1. Motto Pondok Gontor
  2. Berbudi Tinggi. Di manapun dan kapanpun santri harus tetap memiliki akhlaq karimah. Akhlaq karimah saja belum cukup, tetapi harus memiliki kesehatan yang prima.
  3. Berbadan Sehat. Kesahatan jasmani menjadi faktor penting dalam malakukan segala hal, maka santri harus selalu sehat jasmaniahnya. Berbudi tinggi dan berbada sehat tentu juga belum cukup, tetapi harus dilengkapi dengan  pengetahuan yang memadai.
  4. Berpengetahuan Luas. Dalam melaksanakan suatu pekerjaan tidak cukup dengan ilmu yang pas-pasan, tetapi diperlukan pengetahuan yang luas. Setelah memiliki ahklaq karimah, badan sehat dan pengetahuan luas, pada tahap lebih lanjut boleh berpikir bebas.
  5. Berpikiran Bebas. Keempat motto tersebut harus diletakkan secara berurutan dan tidak bisa dibalik.

 

  1. Orientasi Pondok Gontor
  2. Kemasyarakatan, b. Kesederhanaan, c. Tidak Berpartai dan d. Ibadah Thalabul ‘Ilmi.

 

  1. Sintesa Pondok Gontor
  2. Al-Azhar (diwakafkan, keabadiannya, tidak berpolitik praktis, kekayaannya dan pendidikannya), b. Aligarh (kemodernan), c. Syanggit (kedermawanan para pengasuhnya) dan d. Santiniketan (suasana kedamaiannya).

 

  1. Falsafah Pondok Gontor
    1. a.       Falsafah Kelembagaan.

1)      Apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan dialami oleh santri sehari-hari harus mengandung unsur pendidikan. 2). Hidup sekali, hiduplah yang berarti, 3). Berani hidup tak takut mati, takut mati jangan hidup, takut hidup mati saja, 4). Berjasalah, tetapi jangan minta jasa, 5). Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya, 6). Hanya orang penting yang tahu kepentingan, dan hanya pejuang  yang tahu arti perjuangan

  1. b.       Falsafah Kependidikan.

1)      Apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan dialami oleh santri sehari-hari   harus mengandung pendidikan, 2). Hidup sekali, hiduplah yang berarti, 3). Berani hidup tak takut mati, takut mati jangan hidup, takut hidup mati saja, 4). Berjasalah, tetapi jangan minta jasa, 5). Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya, 6). Hanya orang penting yang tahu kepentingan, dan hanya pejuang yang tahu arti perjuangan.

  1. c.        Falsafah Pembelajaran.

1)      Metode lebih penting daripada materi, guru lebih penting daripada metode,   jiwa guru lebih penting daripada guru itu sendiri, 2). Pondok memberikan kail, tidak memberi ikan, 3). Ujian untuk belajar, bukan belajar untuk ujian, 4). Ilmu bukan untuk ilmu, tetapi ilmu untuk amal dan ibadah.

Nilai-nilai yang bernafaskan Islam, bersumberkan Al-Qur’an dan Al-Hadist sebagaimana dijelaskan diatas memberikan spirit TRIMURTI dalam merumuskan haluan perjuangannya di masyarakat. Haluan tersebut yang kemudian ditetapkan dalam visi misi Pondok Modern Darussalam Gontor.

Visi misi PMDG yang dimaksud adalah: Visi, sebagai  lembaga pendidikan Islam yang mencetak kader-kader pemimpin ummat, menjadi tempat ibadah dan sumber ilmu pengetahuan agama dan umum dengan tetap berjiwa pesantren. Visi tersebut yang kemudian dituangkan kedalam  misi PMDG, yaitu:  Mempersiapkan generasi yang unggul dan berkualitas menuju terbentuknya khairu ummah. 2. Mendidik dan mengembangkan generasi mukmin muslim yang berbudi tinggi, berbadan  sehat, berpengetahuan luas, dan berpikiran bebas, serta berkhidmat kepada masyarakat. 3. Mengajarkan ilmu pengetahuan agama dan umum secara seimbang menuju terbentuknya ulama yang intelek bukan intelek yang tahu agama dan 4. Mempersiapkan warga negara yang beriman dan bertakwa kepada Allah swt.

Untuk merealisasikan suksesnya visi misi pondok, diperlukan sistem  kehidupan. Sistem kegiatan PMDG bukanlah sekedar teori semata. Tetapi merupakan pengalaman panjang yang  telah dilaksanakan selama kurang lebih 83 tahun. Sistem kegiatan itu dapat diklasifikasikan menjadi :

  1. 1.      Sistem Kepemimpinan. Mau dipimpin dan siap memimpin adalah salah satu siar Pondok Modern Gontor. Siar itu bukan hanya ditempel dalam bentuk tulisan, tetapi telah menjadi komitmen seluruh santri. Untuk menanamkan jiwa kepemimpinan, yang siap dipimpin dan mau memimpin, maka sejak awal mereka masuk di Pondok Modern Gontor, santri langsung diajarkan beberapa kegiatan yang mengandung unsur-unsur kepemimpinan. Mulai dari mengatur diri sendiri sampai mengatur orang lain, mulai dari memimpin diri sendiri sampai memipin orang lain. Seluruh santri, guru dan kyai yang tinggal di dalam Pondok harus siap dipimpin dan siap memimpin dengan segala resikonya. Agar seluruh proses pimpin-memimpin di Gontor berjalan dengan baik, maka nilai-nilai kepondokmodernan harus menjiwainya.

Dengan berbagai kegiatan yang ada, santri yang telah menyelesaikan studinya diharapkan telah  memiliki modal kepemimpinan yang bisa dikembangkan sesuai dengan kapasitas masing-masing. Sehigga nantinya mereka bisa memiliki kualifikasi pemimpin yang : Ihlas, dapat dipercaya, jujur dan terbuka, tegas, mau berkorban, bekerja keras dan sungguh-sungguh, mempunyai kemampuan berkomunikasi, menguasai masalah dan dapat menyelesaikannya, bisa membuat networking dan memanfaatkanya, berfikir inovatif, bernyali besar dan berani mengambil resiko, baik dalam bermu’amalah maanas dan maaALLAH, dapat diteladani dari segala seginya, ceras dalam membaca keadaan dan memberikan kebijaksanaan.

  1. 2.      Sistem Pengasuhan.

Pengasuhan santri adalah salah lembaga yang ada di Pondok Modern Gontor. Lembaga ini adalah lembaga yang mendidik dan membina kegiatan ekstrakurikuler santri di luar jam belajar santri di KMI mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali. Aktivitas tersebut mencakup kegiatan harian, mingguan, bulanan dan tahunan. Kegiatan ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu kegiatan santri tingkat menengah dan kegiatan santri tingkat tinggi. Aktivitas santri tingkat menengah di atur oleh sebuah organisasi yang disebut Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM) dan Organisasi Kepramukaan. Sedangkan kegiatan santri tingkat tinggi di atur oleh Dewan Mahasiswa (DEMA). Secara struktural lembaga ini ditangani langsung oleh Pengasuh santri yang juga Pimpinan Pondok. Seluruh aktivitas santri selama 24 jam tidak lepas dari muatan nilai, disiplin dan ajaran kemodernan. Untuk melaksanakan kegiatan kependidikan ini diperlukan sistem dan strategi sebagai berikut ; a.Keteladanan.  Sistem ini dilakukan dengan adanya figur dari kyai, pengasuh, guru dan santri sendiri. b. Penciptaan milliu. Sistem ini sengaja dirancang untuk proses pendidikan, sehingga apa yang dilihat didengar, dirasakan, dikerjakan, dan dialalami sehari-hari harus mengandung unsur pendidikan. c. Sistem pembiasaan, dilaksanakan dengan program-program pendidikan dari yang ringan sampai yang berat dengan penuh disiplin. Terkadang jika terpaksa harus dengan pemaksaan. d.Sistem pengarahan. Seluruh kegiatan diawali dengan pengarahan, terutama tentang nilai-nilai pendidikan yang terkandung didalamnya dll.

 

  1. 3.      Sistem Pengajaran.

Ada dua tingkat jenjang pendidikan dan pengajaran di PMDG.  Yaitu tingkat menengah dan tingkat perguruan tinggi. Untuk memperlancar kegiatan pendidikan dan pengajaran tingkat menengah kegiatan ini ditangani oleh KMI, sedangkan untuk tingkat tinggi ditangani oleh ISID. KMI merupakan salah satu lembaga yang ada di PMDG, yang mengurus aktivitas akademis, dimana sistem perjenjangannya sudah dilaksanakan sajak tahun 1936. Sistem ini terbagi menjadi dua yaitu program reguler dan intensif. Untuk meningkatkan kegiatan di KMI, lembaga ini memiliki beberapa bagian: Proses Belajar Mengajar (PBM), Penelitihan dan Pengembangan Silabus (Litbang)Kurikulum, Karir Guru, Perpustakaan, Peralatan dan Tata Usaha. Bagian-bagian ini selalu mengadakan koordinasi antara satu bagian dengan bagian lain, minimal satu bulan sekali. Koordinasi ini dilakukan disamping untuk mengevaluasi juga untuk merencanakan program yang akan datang. Diantara program yang di laksnakan KMI yaitu : Pertama. kegiatan harian berupa tabkir, taftis i’dad, naqdu tadris dan at-taallum al-muwajjah. Kedua. Kegiatan mingguan, dilaksankan untuk koordinasi seluruh guru yang dipimpin langsung oleh Pimpinan Pondok dan Direktur KMI. Koordinasi mingguan ini lebih dikenal dengan sebutan kemisan. Ketiga kegiatan tengah tahunan. Kegiatan ini meliputi ulangan umum baik diawal maupun diakhir tahun. Keempat kegiatan tahunan. Kegiatan ini meiliputi penerimaan santri baru, yudisium kelas V dan penataran Guru. Kegiatan penataran guru dilaksanakan untuk santri yang telas lulus di kelas VI dan dipilih menjadi guru di Gontor.

  1. 4.      Sistem Kaderisasi.

Sejarah bangkit dan tenggelamnya pensantren di Indonesia indentik dengan kebaradaan kyai atau pengasuhnya. Pesantren maju dengan pesat karena figur sang kyai yang bekerja keras dengan segala pengorbananya. Demikian sebaliknya, pesantren mengalami penurunan atau bahkan sampai mati karena ditinggalkan kyainya. Sejarah terpuruknya pesantren di Indonesia tersebut telah memberikan pelajaran berharga bagi kelangsungan Pondok Modern Gontor. Para pendiri Gontor tidak mau melihat pondoknya mati karena ditinggalkan kyai atau pendirinya. Untuk menghidari kemungkinan buruk dan kelangsungan pondok, TRIMURTI telah mengambil langkah-langkah berani dan strategis yang belum pernah ada dalam sejarah pesantren di Indonesia. Yaitu dengan mewakafkan lembaga yang didirikannya kepada ummat Islam. Nadzir yang dipercaya untuk menerima wakaf tesebut adalah para alumni Gontor yang siap meneruskan estafet kepemimpinan di Gontor.

Dengan diserahkannya Pondok Gontor dari wakif ke nadzir (Badan Wkaf Pondok Modern Gontor), secara tidak langsung Gontor telah mengawali proses kaderisasi kepemimpinan pesantren, bahkan, telah lama dipersiapkan. Proses kaderisasi di PMDG, secara langsung dilaksanakan dengan berbagai langkah yang mencakup: Uswah hasanah, pengarahan, penugasan, pendekatan, pelibatan dengan kegiatan pondok, pemberian motivasi, pembekalan, pembinaan lahir dan batin. Pembinaan dilaksanakan secara berjenjang, yakni dari kyai, guru-guru senior, yunior, santri kelas VI, hingga santri kelas I, dengan mengunakan media seluruh kegiatan yang ada di Pondok. Semua penghuni pondok, harus terlibat secara aktif  dalam semua kegiatan yang ada. Sehingga karenanya semua merasa ada kepentingan dengan berlangusungnya kegiatan. Dengan terlibatnya kyai, guru, dan santri terhadap semua kegiatan pondok secara langsung, maka sesungguhnya proses kaderisasi sedang berlangsung. Guru-guru dan santri sebagai kader kyai, masing-masing memahami kegiatan Pondok. Maka kalau pun toh kyainya uzdur atau meninggal maka harapanya guru-guru atau santri, harus dan sudah siap meneruskan  perjuanganya.

  1. 5.      Sistem Pendanaan.

Salah satu prinsip yang menjadi kekuatan Pondok Modern Gontor adalah kemandirian. Madiri dalam segala seginya termasuk dalam pendanaan kegiatan pendidikan dan pengajaran.  Untuk menopang dan mempertahankan kegiatan pendidikan dan pengajaran di pondok diperlukan adanya sumber dana. Sumber dana di Pondok Modern Gontor dimulai sejak awal berdiri hingga sampai sekarang terus digali, bahkan ditingkatkan dengan berbagai usaha seperti: perkebunan, pertanian, pertenakan, idustri, pertokoan dll.Usaha-usaha tersebut semua dikelola oleh santri dan guru. Unit usaha yang dikelola oleh santri berlokasi didalam Pondok, sementara usaha yang ditangani oleh guru berada di dalam dan di luar Pondok. Hasil usaha yang diperoleh dari usaha-usaha tersebut semua digunakan untuk kebutuan santri dan guru. Sehingga dengan demikian dalam hal pendanaan apa yang menjadi kebutuhan dapat dicukupi oleh santri dan guru.

Masalah dana, Pondok tidak selalu menggantungkan pemberian kepada pihak lain ataupun  subsidi pemerintah. Meskipun demikian bukan berarti tidak mau menerima sumbangan dari pihak lain. Sepanjang bantuan itu tidak mengikat maka pondok akan menerimanya dengan tangan terbuka. Dengan sistem pendanaan yang baik maka seluruh kegiatan bisa dikatakan berjalan dengan baik, meskipun demikian terus dilakukan perbaikan. Dan masih banyak lagi sistem tata kehidupan di Pondok yang menjadi khas Gontor yang belum bisa disebutkan disini.

Integrasi pengejawantahan sistem kegiatan dalam sebuah lembaga pendidikan pesantren yang sarat nilai keislaman, penuh disiplin dan kosisten seperti itu, dalam catatan Nurcholisd Majid, membuat Gontor menjadi lebih sebuah masyarakat mini dengan tingkat keadaban tinggi. Dalam bahasa yang ekstrim bahwa sejatinya Gontor sedang dan telah memproduk suatu varian baru dalam khazanah budaya yang ada. Yaitu budaya yang sarat nilai dan disiplin tinggi. Itulah sesungguhnya yang bisa disebut dengan peradaban Gontor..

Dasar-dasar peradaban itu, telah diletakkan oleh TRIMURTI dan akan terus menjadi  pondasi kokoh bagi pengembangan dan penyebaran  peradaban selajutnya. Setelah K.H. Imam Zarkasyi meninggal, maka sejak saat itu, estafet kepemimpinan Gontor beralih, dari genarasi pertama ke generasi kedua. Dalam sidangnya, Badan Wakaf menetapkan tiga pimpinan Gontor yang baru yaitu: K.H. Soiman Luqmanul Hakim, K.H. Abdullah Syukri Zarkasi, MA dan K.H. Hasan Abdullah Sahal. K.H. Soiman Luqmanul Hakim wafat tahun 1999, pada saat itu melalui sidang Badan Wakaf, beliau digantikan oleh K.H. Drs. Imam Badri, sampai beliau wafat pada tahun 2006, kemudian dalam sidangnya Badan Wakaf menetapkan K.H. Syamsul Hadi Abdan sebagai penggantinya. Pimpinan Pondok itulah yang saat ini mengawal, mengembangkan dan mentransformasikan peradaban Gontor ke berbagai wilayah dalam dan luar negeri.

 

  1. Transformasi Peradaban

Untuk kemaslahatan yang lebih luas dan agar menjadi rahmatan lilalamin, generasi kedua melakukan pengawalan, pengembangan dan transformasi peradaban Gontor. Trasnformasi internal meliputi wilayah santri, guru dan keluarga Pondok, sementara wilayah eksternal mencakup wilayah wali santri, masyarakat, tokoh masyarakat dan pemerintah. Metode penyebaran nilai dan sistem Gontor ke wilayah internal disebarkan  dengan menggunakan instrumen: keteladanan, penugasan, penciptaan lingkungan, pengarahan dan pembiasaan.

Keteladanan seorang kyai, guru, pengasuh dan santri menjadi media pendidikan yang sangat efektif. Dengan keteladanan dari semua pihak, masing-masing merasa bertangungjawab atas terselenggaranya kegiatan Pondok. Semua merasa terkontrol dan memiliki rasa tanggungjawab untuk selalu memberi yang terbaik kepada yang lain. Metode lain adalah penugasan. Metode ini dilakukan dengan pelibatan dalam penyelenggaraan kegiatan-kegiatan kependidikan. Selain kedua metode diatas ada juga pola penciptaan lingkungan. Hali ini dimaksudkan sebagai langkah mengkondisikan santri dalam suasana pendidikan. Sehinga semua yang dilihat, didengar,  dirasakan, dan dialami sehari-hari harus mengandung unsur pendidikan. Pola lain yang selalu di tekankan dalam menyelenggarakan kegiatan adalah pengarahan. Pengarahan mesti dilakukan setiap saat sebelum mengawali semua kegiatan, dengan harapan agar semua memahami nilai-nilai filosofis setiap kegiatan. Selain keempat metode diatas, santri dan guru juga dibiasakan menjalankan program-program pendidikan dari yang ringan ke yang berat dengan disiplin tinggi. Terkadang pemaksaan juga diperlukan.

Wali santri, masyarakat, tokoh masyarakat dan pemerintah adalah wilayah eksternal yang menjadi perhatian dan sasaran penyebaran nilai-nilai Gontor. Untuk mengenalkan dan mentransformasikan peradaban Gontor, mereka disentuh melalui berbagai media seperti: tulisan, lisan, perbuatan, pendekatan dan kenyataan. Penerbitan Warta Dunia (wardun) Pondok Modern Gontor, Majalah Gontor, Jurnal Tsaqofah (ISID), Jurnal Fakultas, Majalah Dinding dan Media Masa turut ambil bagian dalam mentransformasikan nilai dan ajaran Gontor. Selain penerbitan (tulisan), metode lisan seperti: khutbatul arsy, acara kemisan, silaturrahim pada bulan Syawal, kunjungan beberapa tamu pejabat dan berbagai pertemuan penting lain, juga menjadi sarana efektif untuk mentransformasikan tentang ajaran Gontor.

Marketing periklanan seperti yang dipahami secara umum, tidaklah di gunakan  Gontor, melainkan kiprah para alumni di masyarakat dengan segala kelebihan dan kekurangannya telah menjadi magnet ampuh yang bisa meyebarkan ajaran Gontor. Yang tidak kalah pentingnya lagi, bahwa sikap tingkah laku dan kesungguhan semua keluarga Gontor, utamanya para pimpinan Pondok dalam meramu kegiatan Pondok, menjadi daya pikat tersendiri bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat terhadap Gontor. Fakta lain yang bisa menjadi instrumen penyebaran peradaban Gontor ke wilayah eksternal, adalah realitas bahwa secara umum Pondok Modern Gontor maju dan berkembang. Santri dan guru-guru terarah dan terkendali, kualitas akademis meningkat, sarana dan prasarana meningkat, alumni tetap berkualitas dengan segala kekuranganya.

 Saat ini hampir masyoritas -untuk tidak mengatakan semua- keluarga, guru, alumni dan anak cabangnya memiliki jaringan kerja, wilayah binaan dan perjuangan, baik dalam bentuk: masjid, langgar, surau, mushola, pesantren, halaqoh, lembaga pendidkan dari tingkat pemula seperti TPA, Play Group, Pesantren Anak Sholeh dll., memiliki komitmen  tinggi untuk menyebarkan nilai dan ajaran Gontor. Bahkan oleh sebagian kalangan luar dan dalam negeri, Gontor telah dijadikan sebagai model pendidikan alternatif. Semoga dengan meluasnya individu, keluarga, kelompok, lembaga dan pemerintah yang menjadikan nilai dan sistem Gontor sebagai acuanya, benar-benar menjadi lebih berkahi dari sebelumnya.

 Itulah peradaban Gontor serba selintas. Saat ini Gontor telah beranak-pinak menjadi sekitar 15 cabang dan 211 balai pendidikan serupa di dalam dan diluar tanah air oleh para alumninya.Untuk menyongsong tantangan peradaban yang semakin global, Insya Allah, Gontor akan mampu menjawab tantangan itu seperti sejak ia didirikan telah mampu, dengan taufik dan hidayah-Nya.

Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

1 Comment