KRITIK PENOLAKAN FATIMAH MERNISI (FEMINIS) TERHADAP DOMINASI KEPEMIMPINAN LAKI-LAKI DALAM ISLAM A. Pendahuluan Kepemimpinan merupakan persoalan politik dan dunia kekuasaan yang selalu menarik minat banyak pihak, tak terkecuali kaum perempuan. Persoalan politik yang dulu lebih didominasi kaum laki-laki dewasa ini telah mengalami perubahan berarti seiring dengan hangatnya tuntutan kesetaraan gender. Kaum feminis radikal yang selalu memperjuangkan kesataraan gender melihat bahwa dominasi laki-laki dalam kepemimpinan Islam harus di putus sehinga tercapailah kesamaan hak laki-laki dan perempuan. Salah satu upaya untuk mensuksekan perjuangan mereka adalah dengan menolak setiap bentuk doktrin dan apapun yang menyudutkan kaum perempuan. Sekalipun hadis shahih (yang menjadi sumber kedua dalam Islam), tetapi apabila dianggap merugikan mereka, maka tidak segan-segan mereka menolaknya dengan berbagai cara. Salah satu hadis yang ditolak oleh kaum feminis adalah hadis Nabi yang diriwayatkan oleh al-Bukhori yang menyebutkan bahwa, “ Suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada seorang perempuan tidak akan memperoleh kesejahteraan”. Penolakan hadis tersebut menurut Mernisi didasarkan pada fakta historis dan meotdologis. Dalam temuan penelitihannya didapatkan, ternyata sejarah kemunculan hadis tersebut didasarkan pada peristiwa terjadinya peperangan antara Romawi dan Persia. Ketika salah satu Raja Persia terbunuh banyak orang mengklaim hak atas tahta sasanit (bagian dari Persia) termasuk diantaranya adalah dua perempuan. Tidak lama kemudian mereka ternyata telah memilih seorang perempuan menjadi gubernur di bagian Persia itu. Maka setelah Rasulullah SAW mendengar kabar tersebut Rasulullah langsung menyampaikan hadis diatas. Menurut Mernisi setelah peristiwa itu terjadi al-Bukhori perawi hadis diatas, tidak pernah melacak bagaimana insiden itu terjadi tetapi hanya menerima laporan dari Abu Bakrah . Siapakah Abu Bakrah ? Dalam kajian Mernisi didapatkan Abu Bakrah adalah seorang sahabat Rasul yang pernah berbohong ketika menjadi saksi atas tuduhan perzinaan yang dialamatkan kepada sahabat Nabi Al-Mughirah bin Sufyan. Lebih dari pada itu Abu Bakrah dalam meriwayatkan hadist tersebut penuh dengan muatan politk yang tidak fair. Maka bagaimana mungkin hadis tersebut dijadikan pedoman ? hadis tersebut tidak layak dijadikan pedoman untuk melegitimasi kepemimpinan laki-laki atas perempuan dan oleh karenaya menurut Mernisi harus ditolak karena sangat merugikan kaum perempuan. . B. Biografi Fatimah Mernisi Fatimah Mernisi (Maroko, lahir 1940), adalah seorang feminis Arab Muslim yang terkenal, merupakan generasi pertama perempuan Maroko yang mendapat kesempatan memperoleh pendidikan tinggi. Mendapatkan gelar doktoralnya dalam bidang sosiologi di Amerika Serikat pada tahun 1973. Mernisi adalah perempuan muslim pertama di Timur Tengah yang sukses dalam membebaskan dirinya dari isu tentang kesetiaan dan pengkhianatan cultural. Salah satu tema yang sering diangkat kepermukaan adalah perlakuaan yang salah terhadap perempuan dalam masyarakat Islam. C. Teks Hadis حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ الْهَيْثَمِ حَدَّثَنَا عَوْفٌ عَنِ الْحَسَنِ عَنْ أَبِى بَكْرَةَ قَالَ لَقَدْ نَفَعَنِى اللَّهُ بِكَلِمَةٍ سَمِعْتُهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَيَّامَ الْجَمَلِ ، بَعْدَ مَا كِدْتُ أَنْ أَلْحَقَ بِأَصْحَابِ الْجَمَلِ فَأُقَاتِلَ مَعَهُمْ قَالَ لَمَّا بَلَغَ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنَّ أَهْلَ فَارِسَ قَدْ مَلَّكُوا عَلَيْهِمْ بِنْتَ كِسْرَى قَالَ « لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمُ امْرَأَةً » .) رواه : البخاري) Ustman ibn Haistam dan Auf menceritakan kepada kami dari Hasan dari Abu Bakrah. Berkata Abu Bakrah, Allah telah menganugerahkan kepadaku sebuah kalimat yang aku dengar dari Rasulullah S A W pada saat perang unta. Setelah hampir ketemu, bahwa kebenaran berada pada pasukan unta, maka kami berperang bersama mereka, berkata Abu Bakrah, ketika berita itu telah sampai kepada Rasulullah, ternyata bangsa Persia itu telah memilih diantara anak raja Kisra yang perempuan sebagai pemimpin mereka, berkata Nabi Muhammad, “tidak akan beruntung suatu bangsa yang menyerahkan urusanya kepada seorang perempuan”,. (Hadist diriwayatkan oleh : al-Bukhori). Keterangan Hadist Menurut penjelasan yang disampaikan oleh Ibn Hajar al-Aqolani dalam Fath al-Bari, bahwa hadist di atas terkait dengan yang diceritakan Abu Bakrah, bahwa ketika Abu Bakra ditanya oleh seorang sahabat, wahai Aba Bakrah siapa yang mealrangmu untuk memerangi kaum Basrah pada saat perang unta ? Aba Bakrah berkata, kami telah mendengar Rasulullah berkata, bahwa tidak mendapat keberuntungan dan hancurlah ketika suatu bangsa keluar dalam pertempuran dipimpin oleh seorang perempuan. Maka kemudian hadis tersebut ditunjukkan oleh Abu Bakrah dan sejak saat itu pula Abu Bakrah melarang berperang bersama mereka. Riwayat lain menyebutkan bahwa, ketika Umar ibn Saibah, dari Hasan dari A’isayah, ketika mengirim utusan ke Abu Bakrah, berkatalah Abu Bakra, sesungguhnya engkau adalah ibu kami dan sesungguhnya hak engakau sangat besar, tetapi Rasulullah pernah menyampaikan, tidak akan beruntung suatu kaum yang meyerahkan urusannya kepada perempuan. Dari uraian diatas disimpulkan seakan Abu Bakrah meragukan pendapat dan apa yang telah dilakukan oleh Ai’syah, tetapi sesungguhnya pendapat Abu Bakrah sama dengan pendapat Aisya yang menghendaki rekonsiliasi antara semua manusia yang bertikai, dan tidak bermaksud ingin berperang. Tetapi ketika peperangan bersama Aisaya tidak bisa dihindarkan lagi, dan Abu Bakrah masih dalam pendirianya yang pertama dan tidak memihak kepada Aisayah, maka Abu Bakrah kemudian mengambil firasa,t bahwa mereka akan kalah ketika bersama Aisyah, sebagaimana yang ia dengar pada kasus bangsa Persia. Berkata Bakrah, ini mengindikasikan, sesungguhnya masih ada seseorang yang masih dalam pendapatnya, bahwa Aisyah dan pengikutnya memerangi Ali untuk mendapatkan Khilafah. Dan tidak memilih diantara mereka untuk menjadi Khilafah, bahkan Aisyah dan pengikutnya menginkari kekholifahan Ali karena tidak menghukumi siapa yang membunuh Usman, bahkan Ali cenderung membiarkanya. Sementara Ali dan kelompoknya menunuggu kelompok Usman untuk menghukuminya sendiri. Maka ketika akan diputuskan salah satu yang membunuh Usman dan dihukuminya, maka dalam hal ini kemudian terjadilah berselisih pendapat, dan takut siapa diataran mereka yang dihukumi sebagai pembunuh Usman ? maka terjadilah perselihan dan peperangan diatara mereka yang mestinya tidak terjadi. Maka setelah terjadi peperangan tersebut, ketika Ali keluar bersama mereka, Ali memuji pendapat Abu Bakrah yang menghendaki untuk menghindari peperangan diantara mereka, meskipun pendapatnya sesungguhnya sama dengan pendapat Aisyah dalam meminta pembebasan Usman. Penjelasan ibn Hajar ini dapat dismpulkan, bahwa ketika perselisihan tak dapat dihindarkan kemudian keputusan tetap dilakukan (oleh kelompok Aisyah) maka peperangan tak dapat dihindari. Perselisihan dan perpechan bahkan sampai pada peperangan tersebut sesungguhnya bermula dari keputuasan yang rapuh yang diambil Aisyah. Hal demikian juga sekaligus membuktikan akan kelemahan Aisyah dalam memimpin pengikutnya, sehingga terjadilah peperangan yang semestnya tidak terjadi, dan benarlah firasat Abu Bakrah akan kekalahn mereka. D. Penelusuran Sanad Berdasarkan penulusuran sanad hadis yang dilakukan melalui Software: Maktabah Syamilah, penulis menemukan dua puluh sembilan (29) hadis yang terkait dengan hadis diatas. Dari 29 hadis tersebut semuanya bermuara pada satu sumber (jalur), yaitu sahabat Nabi Abu Bakrah. Dari penelusuran hadis diatas dapat disampaikan disini bahwa memang benar hadis yang menyoroti tentang kepemipninan perempuan tersebut hanya diperoleh melalui satu pintu yaitu sahabat Abu Bakrah. E. Skema Sanad F. Studi Sanad Dari hasil penemuan hadis diatas makalah ini mencoba melakukan penelitian sanad, yang dikritik oleh kaum feminis sebagai sanad yang tidak bisa dipertangungjawabkan. Kritik dan tuduhan tersebut menyatakan bahwa Abu Bakrah sebagai satu-satunya sumber hadis diatas dianggab sebagai pembohong karena tidak mampu menunjukkan bukti tuduhanya saat menjadi ‘salah satu saksi dari empat saksi’ atas perzinaan sahabat Nabi Al-Mughirah bin Sufyan. Lebih lanjut Mernisi menuduh al-Bukhari sebagai seorang perawi hadis yang tidak sungguh-sungguh. Apa yang dilihat Mernisi pada kasus Abu Bakrah dan al-Bukhari diatas mungkin akan segera mengatakan suatu kewajaran jika di coba dilihat secara kritis akar permasalahn yang menjadi pijakan analisisnya. Dalam mengkitisi kasus tersebut Mernisi menggunakan pendapat ulama fikih yang terkenal yaitu Imam Malik yang dianggap sebagai basis studi keagamaan pada khazanah kesilaman (ilmu, keabsahan sejarah, moralitas otoriatas hukum). Seperti misalnya dia mengutip ungkapan Imam Maliki yang mengatakan : “Ada beberapa orang yang saya tolak sebagai perawi hadis, bukan karena mereka berbohong dalam perannya sebagai seorang berilmu dengan menyampaikan hadis-hadis palsu yang tak pernah dikatakan oleh Rasulullah SAW., tetapi semata-mata karena saya meilihat mereka berbohong dalam hubungan dengan sesamanya, dalam hubunganya sehari-hari yang tak berkaitan dengan ilmu keagamaan”. Menurutnya jika kaidah ini digunakan pada kasus Abu Bakrah maka, dengan segera Abu Bakrah bisa disingkirkan, karena salah satu biografinya dianggap pernah memberikan kesaksian palsu. Untuk melihat dan menguji sejauh mana kebenaran tuduhan tersebut maka penelitian sanad ini menarik untuk dilakukan. Adapun studi sanad ini dilakukan dengan rincian sebagai berikut : 1. Biografi perawi a. Ustman ibnu Hasyim Nama lengkap : Ustman ibnu Haistam ibnu Jahm ibnu Ais ibnu Hasan ibnu Mundir seorang Muadin di Basrah. Julukan : – Gelar : Peringkat ke 10 dari pembesar pengambil hadis dari tabiin Guru : Auf al-A’robi Murid : Ibrohim ibnu Shaleh al-Syaeroji Lahir : – Kritik Sanad : Tabiin yang terkenal dan stiqoh. Wafat : 220 H b. Auf Nama lengkap : Auf ibnu Abi Jamilah al-Abid al-Jahri Julukan :Abu Sahal al-Bashari, Auf al-A’robi. Gelar : Urutan keenam dari tabiin Guru : Hasan al-Basri Murid : Abdul Wahab as-Staqifi, Ustman ibnu Hasyim, Ali ibnu Asim al-Wasity dll. Lahir : 60 H Kritik Sanad : Seorang yang kuat dan stiqoh Wafat : 146 H c. Al-Hasan Nama lengkap : al-Hasan al-Basri Julukan : Yasar al-Basri, al-Anshori Maulahum Abu Said, Maula Zaid ibnu Stabit, Maula Jabir ibnu Abdillah. Gelar : Ahli Fiqih yang kuat. Guru : Abi ibnu Ka’bin, Usamah ibnu Zaid al-Kalbi, Abu Bakrah Nafi’ ibnu Haris al-Staqofi, Abu Hurairah dll. Murid : Umron al-Kosiri, Auf al-A’robi, Amru ibnu Abid dll. Lahir : – Kritik Sanad : Imam, Berkemauan Keras, Berdzikir Kuat, Gudang ilmu Wafat : 110 H d. Abu Bakrah Nama lengkap : Nafi’ ibnu Haris ibnu Kaldah ibnu Amru ibnu Alaj ibnu Abi Salmah Abu Bakrah. Julukan : Masruh, Nafi’ ibnu Masruh Gelar : Sahabat Nabi Guru : Nabi Muhammad SAW . Murid : Asas ibnu Sarmilah, Hasan al-Basri, Robi’I ibnu Huros. Lahir : – Kritik Sanad : Seorang sahabat yang selalu di panggil oleh Nabi Muhammad SAW untuk menjadi gaid dalam beberapa urusan, memiliki kemauan keras dalam berusaha, seorang sahabat yang shaleh, sahabat yang wira’I, Wafat : 51 H 2. Penilaian Sanad Untuk memperkuat temuan hasil takhrij, penulis melakukan telaah atas sanad sebagaimana yang tampak dalam biografi para perawi hadis di atas. Dari hasil telaah disimpulkan adanya kerterkaitan antara satu sanad dengan sanad lain. Hal ini sangat beralasan mengingat bahwa hubungan antara satu sanad dengan sanad sebelumnya sangat jelas dan sangat kuat. Hubungan sanad dimaksud adalah hubungan seorang guru dengan murid yang terus saling menyambung. Sehingga dimungkinkan sangat kecil keterputusan sanad terjadi. Analisa sanad yang tampak pada biografi di atas semua menggambarkan tidak adanya sanad yang perlu diragukan, hal demikian karena didasarkan pada pemberian label yang sangat baik oleh otoritas hadis. Adapun penilaian Mernisi setelah menggunakan standar penilaian Imam Malik dan kemudian dengan berani menyatakan bahwa Abu Bakrah sebagai sahabat pembohong, mungkin lebih tepat bila penilaian tersebut dikatakan sangat tendensius dan subjektif. Penilaian yang didasarkan pada “sikap diam salah satu diantara empat saksi,(tidak ada penjelasan secara rinci siapa sebenarnya diantara empat saksi tersebut yang diam) ketika ditanya Umar perihal kesaksianya menuduh Al-Mughirah bin Sufyan melakukan perzinaan,” adalah tidak bisa dijadikan bukti kuat bahwa Abu Bakrah adalah pembohong. Tetapi apabila melihat Abu Bakra dari sisi lain, bahwa dia adalah sebagai seorang sahabat Nabi yang selalu menjadi guide Nabi dalam beberapa urusan, memiliki kemauan keras dalam berusaha, seorang sahabat yang shaleh, sahabat yang wira’i, maka sebutan pembohong tersebut adalah tidak bijak. Tuduhan tersebut sangatlah mengada-ngada dan sengaja mencari titik kelemahan yang mungkin bisa dijadikan alasan atas pendapatnya. Pada sisi lain jika Mernisi selalu menilai dan menyampaikan keherannyanya kepada Abu Bakrah yang selalu ingat hadis Rasul tersebut, bukan semata Abu Bakrah memiliki muatan politik untuk menyampaikanya kepada yang lain tetapi semata karena memang hadis tersebut benar adanya. Bahkan sesungguhnya menurut Ibnu Hajar al-Askolani hadis tersebut telah disepakati oleh para jumhur . Bukan karena Abu Bakrah memiliki motif tersembunyi sebagaimana yang dituduhkan Mernisi. Atas realitas penjelasan teresbut, maka sesungguhnya tuduhan tersebut sangatlah tidak tepat. Mernisi belum cukup puas dengan menyalahkan dan menuduh Abu Bakrah sebagai sahabat pembohong, bahkan dia juga menggugat al-Bukhori sebagai perawi yang tidak sungguh-sungguh. Menurutnya al-Bukhari tidak mau melacak bagaimana sejarah hadis tersebut bisa sampai kepadanya, tetapi hanya sekedar menerima hadis tersebut begitu saja dari Abu Bakrah . Al-Bkhori bukan tidak menelusuri hadis tersebut begitu saja. Melainkan telah melakukan kajian yang cukup atas hadis tersebut, dengan argument bahwa dari 29 hadis yang diriwayatkan oleh para sahabat dan tabiin tak satupun yang berasal dari selain Abu Bakrah. Karena Abu Bakrah merupakan satu-satunya sumber hadis tersebut, maka penerimaan para sahabat dan tabiin yang diriwayatkannya jauh lebih kuat bila dibanding dengan tuduhan Mernisi. G. Studi Matan Karena yang menjadi persoalan inti dalam penolakkan Mernisi terhadap hadis di atas adalah persoalah kesahihan sanad, maka studi matan dalam takhrij disini tidak menjadi prioritas pembahasan. H. Kesimpulan Dari pemaparan di atas penulis dapat menyimpulkan hasil studi sanad ini sebagai berikut : pertama, bahwa kritik ataupun penolakkan Fatimah Mernisi terhadap Abu Bakrah (dan hadis yang diriwayatkannya), yang dinilai sebagai sahabat Nabi yang bohong adalah tidak fair. Mernisi lebih melihat dari sisi kelemahan Abu Bakrah tampa dibarengi dengan melihat sisi positip yang dimilikinya. Kedua, tuduhan Mernisi terhadap Abu Bakrah sebagai sahabat yang bohong karena sikap “diam” salah satu diantara empat saksi perzinaan yang dimaksud, belum tentu tertuju kepada Abu Bakrah, oleh karenanya tidak bisa dijadikan bukti bahwa Abu Bakrah adalah pembohong. Ketiga, keberanian Mernisi menghujat al-Bukhari sebagai perawi yang tidak sungguh-sungguh menunjukkan sikap tendensius yang tidak berdasar. Fakta 29 sahabat dan tabiin yang terlibat dalam meriwayatkan hadis yang bersumber dari satu jalur, bukankah jauh lebih kuat bila dibandingkan dengan kritik Mernisi yang dialamatkan kepada al-Bukhori. Keempat, dari keterangan yang disampaikan oleh Ibn Hajar, mengindikasikan bahwa terjadinya peperangan kelompok pengikut Aisyah pada peristiwa perselisihan antara kedua kelompok muslim, tentang masalah pembuhun Usman yang tidak segera dihukumi oleh Ali, adalah bukti baru tetang kebenaran firasat Abu Bakrah. Tidak akan beruntung jika suatu bangsa menyerahkan urusannya kepada perempuan. DAFTAR PUSTAKA Al-Asqolani, Ibnu Hajar, Fathul Bari, al-Fitnah allati Tamuuju Kamauji Bahri, (Shofwer : al-Maktabah al-Syamilah). Al-Bukhari al-Ja’fi, Muhammad Ibnu Ismail Abu Abdillah, al-Jaamiu al-Sahih al-Mukhtasyar, Darul Ibnu al-Kastir Baerut Yaman, Cetakan ke III, 1987/1407, al-Maghoozi Bab Kitab Nabi kepada Kisra dan Kaesar, (Shofwer : al-Maktabah al-Syamilah). Al-Mizzi, Yusuf Ibnu Zaqi Abdurrahman Abu al-Hujaj, Kitab Tahdib al-Kamal, Muassas al-Rissalah, Beirut, Cetakkan Pertama, 1980/1400, Diteliti oleh Basar Awad Ma’ruf. Fadilah, Dra. Hj. M. Ag, Menyingkap Mutiara dan Kualitas Hadis, eLKAF, 2003. Mernisi, Fatimah, dalam Charles Kurzaman(Ed.), Wacana Islam Liberal Pemikiran Islam Kontemporer tentang isu-isu Global, Paramadina, 2001.

rajin-rajinlah dalam membaca buku dan simpan di sini

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: