Dasar-dasar Epistemologi Islam: Diskursus Pemikiran Kalam Kontemporer

  1. Pendahuluan

Epistemologi sebagai bagian dari filsafat memiliki berbagai pengertian. Azumardi Azra seperti dikutip Mujamil Qamar dalam bukunya Epistemologi pendidikan Islam, menjelaskan, bahwa epistemologi merupakan ilmu yang membahas tentang keaslian, pengertian, struktur, metode dan validitas ilmu pengetahuan. Hal senada juga disampaikan Dagoberrt D. Runes yang menyatakan, bahwa epistemologi adalah ilmu yang membahas tentang sumber, struktur, metode-metode dan validitas ilmu pengetahuan.[1] Agak berbeda dari kedua pengertian di atas, tetapi sesungguhnya hampir mirip disampaikan Abdul al-Jabbar. Dia membedakan antara istilah “pengetahuan” sebagai (knowledge, non ilmiyah) dengan (science, pengetahuan ilmiyah). Dalam kaitanya dengan istilah itu, Abdul al-Jabbar menggunakan tiga istilah yaitu; ilm, ma’rifah dan dirayah yang dianggapnya memiliki sinonim sama. Tiga istilah tersebut menurutnya memiliki pengertian sama, tidak ada perluasan makna. Sehingga istilah-istilah tersebut berbeda dengan istilah epistemologi pada umumnya. Tidak mempresentasikan struktur fondamental pembeda antara aspek ilmiyah dan non ilmiyah pengetahuan.[2] Dari berbagai pengertian di atas, setidaknya dapat disimpulkan bahwa sejatinya epistemologi sangat erat dengan struktur, sumber, metode dan validitas pengetahuan.

Oleh karena itu, epistemologi memiliki kedudukan penting dalam rancang bangun disiplin keilmuan. Epistemologi menentukan corak, warna dan validitas kebenaran sebuah ilmu. Corak dan warna ilmu sangat tergantung pada epistemologi yang digunakan. Sementara teori pengetahuan atau epistemologi yang menghasilakan disiplin ilmu itu, kualitas dan keabsahannya sangat tergantung pada pandangan dunia yang dimilikinya. Paradigma keilmuan seorang ateis,  berbeda dengan seorang ilmuan yang memiliki basis keilmuan religi. Pandangan hidup yang memiliki elemen kepercayaan terhadap Tuhan misalnya, sudah tentu akan menerima pengetahuan non-empiris. Sebaliknya pandangan hidup yang mengingkari eksistensi Tuhan akan menafikan pengetahuan non-empiris dan pengetahuan lainnya. Demikian pula pandangan hidup ateis akan menganggap sumber pengetahuan moralitasnya hanyalah sebatas subyektifitas manusia dan bukan dari Tuhan [3]

Dasar-dasar epistemologi Islam, sudah sangat jelas, corak, warna dan sumbernya. Sebagai agama wahyu, Islam telah jelas konsep-konsep dasar teologis dan ibadahnya. Islam tidak mengalami evolosi. Ummat Islam sepanjang sejarah dalam hal-hal yang bersifat pokok tidak pernah berbeda pendapat, seperti masalah bahwa Allah itu satu, Muhammad adalah utusan Allah dan manusia biasa, Nabi Isa adalah utusan Tuhan bukan Allah, shalat lima waktu itu wajib, semua menunjukkan, adanya Islam yang satu.[4] Dalam Islam ada yang qat’i, dan ada yang relatif atau dzanny. Meskipun demikian, karena pengetahuan ummat Islam sangat beragam, terlebih pemahaman mengenai hal-hal yang bersifat qat’i dan dzanny itu, belum sepenuhnya dimengerti, maka timbulah berbagai persoalan. Liberalisasi pemikiran dikalangan sebagian kelompok generasi muda Islam tak bisa dibendung bahkan tumbuh dengan subur. Sesuatu yang mestinya tidak boleh berubah, dengan alasan kontekstual, diupayakan dan dipaksakan untuk disesuaikan dengan konteks. Ada kelompok pemikir muslim yang menawarkan perluanya pluralisme, humanisme, kesetaraan gender dan lain sebagainya dalam mendialogkan Islam dengan budaya lokal. Perubahan persoalan-persoalan qat’i yang dipaksakan akan mengeser permasalahan epistemologi dan berujuang pada perubahan paradima. Jika paradima telah berubah, maka secara perlahan akan merambah pada wilayah pemahaman seseorang terhadap hal-hal yang dasar. Hal yang demikian terjadi karena minimnya pemahaman ummat tentang dasar epistemologi Islam, maka pembahasan mengenai prinsip epistemologi Islam sangat tepat dilakukan. Dasar-dasar epistemologi Islam, yang telah di ajarkan oleh Nabi dan yang deteruskan oleh sahabat dan dikembangkan oleh para ulama salaf dari ahli sunah wa al-jama’ah perlu didiskusikan disini.

Mendiskusikan secara intens tentang persoalan-persoalan mendasar (kalam) dari yang berkenaan af’al Tuhan dengan segala sifat-Nya sampai pada persoalan al-qur’an, apakah baru atau qadim, sebenarnya telah dilakukan oleh para mutakalimun. Mereka dengan penuh semangat membahas, mendiskusikan persoalan-persoalan dasar, hingga masing-masing aliran berpegang pada keyakinannya sampai perselisihan tak dapat dihindari, bahkan saling mengklaim akan kebenaran pendapatnya. Ketegangan antar kelompok tersebut terjadi karena pandangan dunia yang berbeda, sehingga  tampak sulit untuk dikompromikan. Meskipun demikian, bukan berarti ummat Islam dewasa ini tidak bisa mengambil manfaat dari adanya perbedaan itu. Dengan adanya perbedaan tersebut, ummat Islam justru dituntut utuk mengambil (hikmah) jalan yang bijak dan selalu giat dalam mendiskusikan, mengembangkan dan memperkaya khazanah keilmuanya. Dengan cara sperti itu tradisi keilmuan Islam diharapkan bisa berkembang dengan baik sehingga mampu memberikan konstribusi besar dalam membangun kembali peradaban  Islam.


[1] Prof. Dr. Mujamil Qamar, M. Ag. Epistemologi Pendidikan Islam, Erlangga, tt., hal. 4

[2] Wardani, Epistemologi Kalam Abad Pertengahan, PT LKiS Pelangi Aksara, 2003, hal. 49

[3] Lihat Hamid Fahmi Zarkasyi, Pandangan Hidup, Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan Islam, makalah disampaikan pada workshop Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan di Sekolah Tinggi Lukman ul Hakim, Hidayatullah Surabaya, 12-13 Agustus 2005.

[4] Adian Husain,  Hegemoni Kristen-Barat dalam studi Islam di Perguruan Tinggi, Gema Insani Press, 2006, hal. 106

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: